Sistem Keamanan USBN Dinilai belum Terjamin

Dhika Kusuma Winata
30/12/2017 19:17
Sistem Keamanan USBN Dinilai belum Terjamin
(. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)

MULAI tahun depan, penerapan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) berlaku untuk semua jenjang pendidikan, termasuk sekolah dasar (SD). Berkaca dari penyelenggaraan USBN perdana tahun ini pada jenjang SMP dan SMA/K, sejumlah hal perlu diperbaiki. Salah satunya terkait dengan standar keamanan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan, seperti kebocoran soal.

Pengamat pendidikan Doni Koesoema Albertus menyatakan, USBN yang sejak awal tahun ini mulai dilaksanakan pada jenjang SMP dan SMA/K masih dibayang-bayangi problem kebocoran soal. Terbukti, ungkapnya, kasus dugaan kebocoran soal USBN sempat tersebar melalui layanan pesan singkat WhatsApp sebelum hari ujian.

Ia berpendapat, hingga saat ini belum ada sistem keamanan yang dibangun untuk menjamin integritas penyelenggaraan USBN.

"Kebocoran itu pasti ada. USBN keamanannya belum terjamin. Berbeda dengan soal Ujian Nasional (UN) yang disegel dari pusat," ujarnya, saat dihubungi Sabtu (30/12).

Karena itu, lanjut Doni, sistem keamanan untuk menjamin tidak terjadinya kebocoran soal menjadi hal yang amat penting. Ia pun mengapresiasi rencana ujicoba penyelipan soal esai untuk soal USBN karena bakal membantu siswa mengembangkan cara berpikir kreatif. Namun, ia menegaskan jika terjadi kebocoran, upaya untuk mengembangkan kemampuan siswa melalui esai tersebut tidak akan berdampak.

"Untuk ujian sekolah soal esai itu bagus karena kita perlu mengajak peserta didik untuk memiliki cara berpikir tingkat tinggi yang tidak dapat dipotret secara langsung melalui model pilihan ganda. Tapi kalau soalnya bocor sia-sia," jelasnya.

Terkait dengan USBN untuk SD dengan delapan mata pelajaran yang diujikan, Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, berpendapat, pemerintah perlu menimbang ulang relevansinya. Selain karena problem standar keamanan, ia menyatakan hal itu bisa memberatkan siswa-siswi.

Satriwan menyatakan jenjang pendidikan dasar seyogyanya jangan dibebani dengan aspek kognitif dengan USBN yang menambah mata pelajaran yang diujikan.

Menurutnya, anak-anak SD hanya perlu diperkuat kemampuan serta keterampilan sosial. Ia mengingatkan USBN SD jangan sampai menjadikan penilaian hasil pendidikan kembali kepada era yang berbasis soal ujian.

"Kita memahami UN dan USBN sudah tidak menentukan kelulusan. Tapi untuk usia SD rasanya memberatkan karena orientasi pendidikan dasar sebenarnya bukan berorientasi ilmu tapi lebih mengembangkan sikap, keterampilan, dan bersosialisasi. Kemudian juga membangun karakter," ungkapnya.

Terpisah, Kepala SDN 48 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Asnar Karnilita, menyatakan, pihaknya masih menunggu petunjuk terkait teknis penyelenggaraan USBN. Ia mengatakan telah menyiapkan siswa-siswi dalam menghadapi USBN dengan mengadakan kelas tambahan seusai jam pelajaran sekolah.

"Kami menunggu soal teknis termasuk juga kisi-kisinya. Seluruh mata pelajaran kita berikan pengayaan kepada siswa," ucapnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya