Refleksi Akhir Tahun DPRD DIY Gelar Wayang Kulit

Ardi Teristi
26/12/2017 15:12
Refleksi Akhir Tahun DPRD DIY Gelar Wayang Kulit
(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

SEBAGAI refleksi jelang pergantian tahun, DPRD Yogyakarta menggelar pentas wayang kulit dengan lakon Banjaran Bima.

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto menjelaskan, pentas wayang kulit akan digelar di DPRD DIY itu akan digelar Rabu (27/12) mulai pukul 20.00 WIB. Ki Seno Nugroho bakal menjadi dalam dalam pentas tersebut.

Sosok Seno Nugroho merupakan salah satu dalang dari Yogyakarta yang mumpuni. Bahkan, semenjak remaja namanya sudah disebut-sebut (alm) budayawan Umar Kayam sebagai salah satu putra masa depan seni pedalangan gaya Yogyakarta.

"Mari duduk bersama untuk menonton dan menyimak pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini. Ini pagelaran wayang di akhir 2017, semoga bisa jadi refleksi kita semua," kata Eko di Yogyakarta, Selasa (26/12).

Cerita yang ditampilkan diharapkan dapat menjadi refleksi guna memulai 2018 dengan semangat pengabdian. Selain itu juga semangat memberikan pelayanan kepada rakyat dengan lebih baik lagi, serta semangat untuk jujur dan berani membela kebenaran, berjuang bersama untuk kesejahteraan masyarakat.

Banjaran Bima adalah lakon garapan baru yang diperkenalkan oleh para seniman seni pedalangan untuk memperkenalkan secara utuh laku hidup, karakter, sifat-sifat dan keteladanan tokoh Aria Bima. Sebagai lakon banjaran maka Banjaran Bima mengisahkan kehidupan Aria Bima sejak muda, dewasa, tua, hingga perjalanannya menapaki masa tua yang pasti dan tenang seusai peperangan besar Baratayuda.

Bima adalah anomali di antara para kesatria Pandawa, yang mayoritas digambarkan berkarakter lembut dan bertutur kata halus sebagai perwujudan kesopanan tinggi. Namun Bima justru digambarkan selalu menyampaikan isi hati apa adanya, tanpa ada yang dibungkus dan dikemas.

Bahkan dia bicara dengan bahasa kasar (ngoko) kepada siapapun, termasuk dengan para dewa. Ada kesan awal tentang ketidaksopanan, namun ada juga penilaian tentang keberanian dan sikap egalitarian kerakyatan.

Namun justru hanya Bima yang kodo dan terkesan agal inilah yang dipilih dalam cerita simbolis filosofis Jawa, sebagai satu-satunya tokoh yang bisa bertemu dengan jati dirinya. Bima bisa selalu berteman dengan hati nuraninya, karena dia tak pernah berpikir, bertindak dan mengambil keputusan dengan mendahulukan kepentingan-kepentingan yang dibungkus dan dikemas sedemikian rupa seolah-olah merupakan niatan baik.

Bima sejak awal telah menjadi pribadi yang bebas dan merdeka dari hal-hal seperti itu. Karena keteguhan sikapnya itu pula maka Bima adalah tokoh yang paling tegas membedakan tentang salah dan benar. Tanpa ada keraguan dia menuding dan membenci ketidakadilan dan keangkaramurkaan.

Karena itu dalam cerita epos wiracarita Mahabharata, Bima dipilih untuk membungkam segala kejahatan dan memberantas ketidakadilan. Dialah yang menghabisi kesewenang-wenangan Duryudana, yang menamatkan segala keculasan Sengkuni.

"Tak heran, proklamator kita Bung Karno sangat mengidolakan tokoh ini. Beliau sering menggunakan nama samaran sebagai 'Bima' di masa-masa awal terjun di dunia pergerakan melawan penjajahan," jelas Eko.

Ketegasan, kejujuran, tanpa basa-basi, dan kesanggupan Bima melawan ketidakbenaran rupanya telah membuat Bung Besar kita jatuh hati pada tokoh ini. Sehingga, lanjut Eko, beliau merasa menemukan personifikasi dirinya pada tokoh perkasa yang tak kenal kata menyerah tersebut.

Ia juga menuturkan, ada sebuah nasihat kuno yang mengatakan hati nurani itu berbentuk segitiga kecil, yang berada di dalam sebuah segitiga lebih besar bernama akal pikiran. Jangan sekali-kali mencoba memutar-mutar segitiga kecil bernama hati nurani itu. Semakin sering diputar akan semakin tumpul ujung-ujung kepekaannya. Nasihat itu rasanya akan menemukan perwujudannya ketika menyaksikan gambaran hidup tokoh Bima. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya