Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kembali menggelar pertemuan diaspora Indonesia melalui program World Class Professor (WSC). Saat ini, sudah ada 104 profesor asal Indonesia yang mengajar dan berkarier di berbagai negara akan mengikuti program diaspora Indonesia 2017.
“Kami undang para profesor tersebut berkunjung ke kampus-kampus melalui program WCP. Mereka mengajar dan memaparkan pengalaman berkarier sebagai diaspora di luar negeri," kata Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, pada talkshow 'Figur Ilmuwan Muda dan Sumbangsihnya bagi Bangsa', di Jakarta, Selasa (19/12).
Program diaspora pulang kampung, diakui Ghufron --sapaan akrab Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) ini-- bertujuan untuk berbagi ilmu pengetahuan dan transformasinya, berbagi mengembangkan penelitian dan publikasi internasional, serta berbagi pengalaman berkarier sebagai diaspora.
Ghufron berharap, dengan program itu tercipta satu bentuk kerja sama dan kolaborasi antarperguruan tinggi di Indonesia dan perguruan tinggi di luar negeri, termasuk para profesor atau guru besarnya. Misalnya dalam menyusun proposal bersama, menyusun draf penelitian bersama, kerja sama program lulusan, pertukaran dosen maupun mahasiswa, kerja sama inovasi, mematenkan produk, dan lainnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi amat besar menjadi negara maju. Dengan jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas, sumber daya alam yang kaya, serta jumlah perguruan tinggi yang banyak, semua itu menjadi potensi yang bisa dikembangkan. Oleh sebab itu dibutuhkan langkah-langkah strategis agar Indonesia bisa mengalami lompatan besar dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Nah, sumbangsih diaspora Indonesia penting dan strategis dalam berkontribusi memajukan iptek bagi bangsa. Tahun lalu kita sudah undang 45 diaspora, dan tahun ini kita undang 42 orang. Dan sekarang mereka telah datang berkunjung ke kampus-kampus di sejumlah wilayah di Tanah Air," cetusnya.
Dalam acara tersebut, Dr Rino Mukti, salah seorang diaspora yang kini mengabdikan ilmunya di Indonesia, menjelaskan, sebelumnya ia sempat berkarier di Jepang dan Jerman dengan penghasilan tinggi. Kemudian pada 2009, ia memutuskan kembali ke Tanah Air, dan menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung serta asisten profesor kampus terkemuka tersebut.
Ia mengaku, dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, dirinya kini ingin berkontribusi bagi dunia pendidikan di Tanah Air.
Sebagai ilmuwan muda yang berusia 40 tahun ini, ketika berkarier di luar negeri, kata dia, apa pun hasil penelitian dan inovasi yang dilakukannya menjadi hak dan milik negara bersangkutan.
"Nah, maka apa yang harus kita kontribusi untuk negara kita,” kata anggota Asosiasi Ilmuwan Muda Indonesia ini.
Sebab itu, pria yang menyelesaikan pendidikan magister di kampus top Jepang, Tokyo University, dan meraih gelar doktor di Muenchen University Jerman ini, memutuskan kembali dan berkarier di Indonesia.
Kendati secara finansial penghasilan yang ia peroleh lebih kecil ketimbang berkarier di negeri orang, ia merasakan bahwa besar kecilnya penghasilan itu relatif. Menurutnya, sumber daya alam Indonesia yang kaya harus dieksplorasi dan membutuhkan para ahli putra putri terbaik, termasuk yang telah menimba ilmu di luar negeri.
Sementara, diaspora lainnya yang hadir pada acara tersebut, Vincentius SK Adi, mengatakan, sebagai diaspora, dirinya tetap berkeinginan berkontribusi bagi Tanah Air. Adi, yang saat ini masih menjadi dosen dan asisten profesor di National Chung Using University, Taiwan, sengaja datang memenuhi undangan Ditjen SDID Kemenristekdikti.
"Sebagai warga Indonesia yang kini mengajar di Taiwan saya hadir untuk dapat berkontribusi dan berbagi pengalaman diaspora," tukasnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved