Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA tidak mempunyai alat pendeteksi tsunami atau yang disebut buoy. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, pantauan datangnya tsunami dilakukan oleh petugas secara manual dari bibir pantai.
Sutopo mengatakan 22 buoy milik Indonesia tak lagi berfungsi.
"Oleh karena itu, pengamatan dilakukan manual, di mana petugas berada di pantai mengamati datangnya tsunami," kata Sutopo di Jakarta, Senin (18/12).
Menurut Sutopo, keberadaan buoy sangat penting untuk mendeteksi datangnya tsunami. Bahkan, menurutnya, buoy bisa mengetahui wilayah mana saja yang akan terdampak tsunami.
"Buoy mampu mendeteksi tsunami dan bisa mengirimkan informasi wilayah-wilayah mana saja yang terdampak. Kapan datangnya tsunami. Semua menggunakan permodelan," kata Sutopo.
Tahun lalu, Sutopo mengatakan penyebab rusaknya buoy lantaran tidak ada biaya pemeliharaan dan operasional. Menurut Sutopo, anggaran pemeliharaan buoy per tahun sekitar Rp30 miliar.
Menurutnya, buoy juga rusak karena ulah oknum yang berbuat vandalisme. Bahkan, saking tidak terurus, buoy sempat hanyut mendekati permukiman warga.
"Seperti kasus rusaknya buoy pada April 2009 di Laut Banda. Pada September 2009 hanyut di utara Sulawesi," kata Sutopo di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis 3 Maret 2016. (MTVN/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved