Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi kembali difteri mendapat respons positif dari masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengapresiasi publik yang sadar tentang pentingya mencegah difteri melalui imunisasi.
Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Elizabeth Jane Soepardi, pelaksanaan imunisasi ulang di 12 kabupaten/kota yang ada di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten pada Selasa (12/12) sudah menjangkau 2,27% atau setara 179 ribu anak dari target 7,9 juta anak.
"Animonya tinggi dan tidak seperti imunisasi sebelumnya (measles rubella). Sejauh ini belum ada laporan penolakan," kata dia saat dihubungi, kemarin.
Jika respons positif berlanjut, ia optimistis target imunisasi ulang bisa tercapai kurang dari dua bulan. Oleh karena itu, ia mengingatkan pemerintah daerah agar terus berkomitmen memobilisasi sumber daya yang ada untuk mendorong semakin banyak anak yang diimunisasi.
"Setiap daerah harus berusaha agar daerahnya tidak terjangkit (difteri). Cara satu-satunya ialah memperkuat ketahanan melalui imunisasi," tuturnya.
Imunisasi ulang difteri yang berlangsung mulai Senin (11/12) di DKI Jakrta berlangsung di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Di Banten, imunisasi dilakukan di Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Serang. Di Jawa Barat, imunisasi dilaksanakan di Purwakar-ta, Karawang, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.
Elizabeth menambahkan imunisasi sejatinya tidak hanya dilakukan pada anak-anak, tapi juga orang dewasa terutama para tenaga kesehatan, guru, dan TNI-Polri.
"Saat ini puskesmas-puskemas di Jakarta dan di RSCM sudah menyuntik (mengimunisasi) tenaga kesehatan mereka. Orang dewasa, terutama yang berhubungan dengan pasien, tidak boleh tertular dan mereka juga tidak boleh menularkan. Guru-guru di daerah ORI (yang melaksanakan imunisasi ulang) juga perlu diimunisasi. Percuma kalau muridnya saja (yang diimunisasi) karena dewasanya juga bisa menularkan. Kemudian TNI/Polri karena itu untuk pertahanan negara," terangnya.
Ia menyarankan orang dewasa umum di daerah-daerah yang melaksanakan imunisasi ulang juga mendapat imunisasi. Hal itu, ujarnya, bisa dilakukan secara mandiri dengan mendatangi puskesmas atau rumah sakit.
Libatkan Kemendikbud
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indone-sia (IDAI) Aman B Pulungan mengatakan program imunisasi difteri harus melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar sekolah bisa melihat dan mengevaluasi jadwal imunisasi murid.
"Kelemahan kita saat ini ialah jadwal imunisasi di sekolah sering tidak sesuai. Jadwalnya tidak tercatat dengan baik," kata Aman, kemarin.
Menurutnya, para orangtua juga sering kali tidak mencatat imunisasi yang sudah dilakukan terhadap anak mereka. Di sisi lain, sekolah juga tidak terlalu memperhatikan imunisasi murid-muridnya.
Bila program imunisasi melibatkan Kemendikbud, kata Aman, diharapkan sekolah bisa lebih memperhatikan pelaksanaan imunisasi pada murid-murid sehingga anak-anak Indonesia bisa diimunisasi sesuai dengan jadwal.(Ind/Ant/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved