Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMIMPIN umat Katolik Roma sedunia, Paus Fransiskus, 80, tiba di Myanmar kemarin dalam kunjungan resmi selama empat hari di tengah kritik dunia internasional terhadap negara itu atas dugaan pembersihan etnik minoritas Rohingya.
Setelah mendarat di Bandara Yangon, Paus langsung disambut anak-anak dari kelompok minoritas dengan pakaian cerah dan berhias permata. Mereka memberinya bunga dan Paus membalasnya dengan pelukan.
Sepanjang perjalanan, iring-iringan mobil yang membawa Paus ke kediaman uskup agung di pusat Kota Yangon disambut antusias ribuan warga.
Para biarawati berpakaian putih berada di antara kerumunan orang.
"Saya melihat Paus. Saya sangat senang, saya menangis! Wajahnya terlihat sangat indah. Dia datang untuk perdamaian," kata Christina Aye Aye Sein.
Myanmar diperkirakan memiliki sekitar 700 ribu umat Katolik dari 51 juta jumlah penduduk yang mayoritas beragama Buddha.
Sekitar 200 ribu umat Katolik akan datang ke Yangon dengan pesawat, kereta api, dan mobil menjelang misa besar terbuka pada Rabu (29/11).
"Orang-orang datang dari seluruh pelosok negeri untuk bisa melihatnya beberapa detik," kata suster Genevieve Mu, biarawan etnik Karen.
Ia mengaku bangga pemerintah membuka negara untuk kunjungan Paus.
Selain memimpin misa, Paus direncanakan bertemu dengan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi serta mengadakan pembicaraan dengan Panglima Militer Min Aung Hlaing.
Diduga, pertemuan tersebut untuk membicarakan masalah Rohingnya.
Sebelum berangkat, di hadapan sekitar 30 ribu orang di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus berkata, "Saya meminta Anda untuk bersamaku dalam doa hingga untuk orang-orang ini, kehadiran saya adalah tanda kedekatan dan harapan."
Nur Mohammad, warga etnik Rohingya di kamp pengungsian Nayapara di Cox's Bazar, berharap Paus meminta pemerintah Myanmar menerima Rohingya.
Beberapa hari sebelum kunjungan Paus, Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan untuk mulai memulangkan pengungsi Rohingya.
Analis militer di Myanmar, Richard Horsey, mengungkapkan warga Myanmar memiliki pandangan berbeda tentang kasus Negara Bagian Rakhine.
"Jika Paus membicarakan masalah ini, ketegangan dan sentimen publik akan berkobar."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved