Siswi SMA Manado Daur Ulang Kertas Bekas Menjadi Tisu

Ghani Nurcahyadi
25/11/2017 01:17
Siswi SMA Manado Daur Ulang Kertas Bekas Menjadi Tisu
(Ist)

BANYAKNYA kertas bekas di sekolah membuat Chensie Sharon Angkasa terdorong untuk meneliti proses daur ulang kertas bekas tersebut menjadi produk yang lebih bernilai.

Siswi kelas 3 SMA 9 Binsus Kota Manado, Sulawesi Utara, ini mencoba mendaur ulang kertas menjadi tisu sebagai objek praktik uji coba yang ditugaskan pihak sekolah. Percobaan dalam untuk menjadikan kertas bekas lebih bernilai itu pun akhirnya berhasil.

Dari hasil penelitiannya itu, Chensie menarik kesimpulan bahwa tidak sulit mendaur ulang kertas bekas menjadi tisu yang lebih bernilai. Namun, karena sedang fokus pada ujian akhir sekolah, Chensie belum berpikir apakah akan menjadikan daur ulang kertas ini sebagai usaha atau tidak.

“Saat ini saya terus memberitahukan hasil penelitian ini kepada adik kelas dan mencoba menyosialisasikan ke tetangga barangkali ada yang berminat menekuni usaha itu,” ujar Chensie, belum lama ini.

SMA 9 Binsus Kota Manado memang merupakan sekolah yang dikenal dihuni oleh para siswa dengan IQ tinggi. Wajar jika uji coba praktik siswanya juga dilakukan secara serius dan berbobot.

Saat melakukan uji coba daur ulang limbah, Chensie menggunakan peralatan sederhana yang bisa digunakan untuk membuat kertas, milik kenalan gurunya. Ternyata ujicobanya berhasil dan tisu yang dihasilkan juga putih.

“Tisu hasil uji cobanya dibagikan ke tetangga dan digunakan di sekolah,” tuturnya.

Chensie merupakan satu dari 78 pemuda teknopreneur yang mengikuti pelatihan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Bersama para pemuda terseleksi lain dari 34 provinsi, ia mendapatkan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pemuda Berbasis Iptek dan Imtak bertema ‘Pemuda sebagai Penggerak Sentra Pemberdayaan Pemuda di Desa’ yang digelar di Bogor, Jawa Barat pada akhir Juli 2017.

Berdasarkan keterangan tertulis dari Kemenpora, Jumat (24/11), para pemuda yang direkrut dalam pelatihan yang digelar Asisten Deputi Bidang Peningkatan Iptek dan Imtak Pemuda Kemenpora itu, sebagian besar berasal dari beberapa titik pada 40 desa percontohan dan 14 Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya