Kembali ke Desa, Pemuda Ini Berhasil Mengubah Limbah Jadi Bernilai

Ghani Nurcahyadi
23/11/2017 18:08
Kembali ke Desa, Pemuda Ini Berhasil Mengubah Limbah Jadi Bernilai
(Ist)

SETELAH belasan tahun berkutat hidup di Ibu Kota Jakarta, dari sekolah hingga bekerja, Ade Wahyudi memutuskan kembali ke kampung halamannya di Desa Alaswangi, Menes, Pandeglang, Banten, pada 2016 lalu.

Awalnya, pemuda ini sempat kikuk, tetapi kemudian bisa menemukan jalan. Dengan kreativitas melihat kondisi di daerahnya yang banyak drum bekas, ia berhasil memanfaatkan limbah tersebut menjadi berbagai produk dengan nilai estetika dan ekonomi tinggi, seperti sofa, meja, tong sampah, dan kursi.

Distrik of Art (DoA) menjadi wadah komunitas yang dibentuk Ade bersama rekan-rekannya dalam menjalankan proses kreatif tersebut.

"Sejauh ini sudah banyak pemesan dari luar Pandeglang, seperti Tangerang, Depok, Serang, dan Bogor. Dari banyaknya peminat terhadap produk yang dihasilkan saat ini sudah ada enam pemuda yang dilibatkan. Sementara pemuda yang tergabung di komunitas DoA sekitar 25 orang," ujar Ade, yang awalnya bekerja sebagai honorer di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Jakarta.

Ade mengakui, tinggal di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, pada awalnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hasrat berkarier di daerah nyatanya tidak semudah berimajinasi. Butuh tenaga ekstra, emosi, dan juga jiwa.

Tidak lain penyebab utamanya ialah soal ketersediaan lapangan pekerjaan, langka dan minim. Ditambah dengan kondisi lingkungan yang secara umum sangat memprihatinkan, banyak lingkungan yang tercemar, serta anak-anak muda yang belum memiliki pekerjaan tetap alias pengangguran.

Berangkat dari kondisi itu, Ade pun nekat untuk mulai membuka lapangan pekerjaan, dengan memberdayakan anak-anak muda di sekitar rumahnya.

Mulanya, Ade sempat memiliki ide membuat sebuah agrobisnis, tetapi banyak dari para pemuda tidak memiliki latar dan minat di bidang pertanian. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk membuat sebuah lini usaha yang berbau seni dan kreativitas serta memiliki nilai tambah terhadap lingkungan.

"Kami memulai sebuah proyek seni dengan memanfaatkan limbah drum yang kami sulap menjadi berbagai barang interior dengan nilai estetika dan ekonomi tinggi seperti sofa, meja, tong sampah, dan kursi," ujar pemuda yang lahir dari ayah asal Cirebon, Jawa Barat, dan ibu dari Banten ini.

Selain berorientasi pada pemberdayaan, Ade juga berkeinginan untuk memunculkan kepuasan bagi anak-anak muda di daerahnya. Ternyata, hasil karyanya bersama anak-anak muda di Menes dilirik oleh Bupati Pandeglang dan juga artis senior Dik Doank.

"Tentu hal ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka, tetapi hal itu tidak lantas menjadikan kami berbesar kepala, kami sadar masih banyak inovasi yang harus kami kejar, agar semakin banyak nilai kebermanfaatan yang dihasilkan meskipun itu berasal dari limbah," kata pemuda kelahiran 16 Januari 1988 itu.

Kreativitas dan keahliannya di bidang seni kriya ini juga membuat Ade mendapat banyak pesanan, baik dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun perorangan. Seperti mendesain taman atau ruangan interior.

Dalam sebulan, kini omzet penjualan produk dan jasanya sudah mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta. Wajar jika ia mengaku menyesal kenapa tidak dari dahulu kembali ke desa, membangun daerahnya, sambil menjalankan kewirausahaan.

"Ya, saya sangat menyesal mengapa tidak dari dulu saya membangun, mengembangkan, dan mengabdi di desa. Saya sangat menyesal baru sekarang tersadarkan bahwa seharusnya desa dijadikan halaman depan sebuah rumah sehingga harus kita benahi, ditata, dan dikelola," tuturnya.

Ade merupakan satu dari 78 pemuda teknopreneur penggerak dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang menjadi binaan dan mendapatkan pelatihan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dalam keterangan tertulis dari Kemenpora, Kamis (23/11), disebutkan, bersama para pemuda terseleksi lain dari 34 provinsi, Ade mendapatkan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pemuda Berbasis Iptek dan Imtak bertema 'Pemuda sebagai Penggerak Sentra Pemberdayaan Pemuda di Desa' yang digelar di Bogor, Jawa Barat, akhir Juli 2017.

Para pemuda yang direkrut dalam pelatihan yang digelar Asisten Deputi Bidang Peningkatan Iptek dan Imtak Pemuda Kemenpora itu, sebagian besar berasal dari beberapa titik pada 40 desa percontohan dan 14 Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Kreativitas Ade ini juga telah mengantarkannya terpilih sebagai juara Pemuda Pelopor dari Provinsi Banten untuk bidang lingkungan. Namun, untuk tingkat nasional, ia hanya masuk nominasi.

Selain kesibukannya berkreasi di DoA, dalam waktu bersamaan, Ade bersama pemuda lainnya menginisiasi Pemuda Lintas Desa (Pelita Desa), sebuah spirit kebersamaan untuk terus bergerak membangun desa. Salah satunya adalah menyinergikan pemuda-pemuda untuk membangun dan mengembang lingkungan desa. Rehabilitasi Teluk salah satu produk kolaborasi anak-anak muda Pandeglang. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya