Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA hari mengunjungi delapan rumah ibadah, para peserta 'Peace Train 2: Jakarta-Surabaya' mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang keberagaman iman. Tidak sedikit kejutan diperoleh peserta, yang rata-rata masih muda, karena baru mendapat informasi yang langsung dari sumbernya, yang tidak diketahui sebelumnya.
Peserta dari Jakarta, Christian Sugiarto, 15, menyampaikan pengakuan bahwa selama ini abai terhadap eksistensi penganut aliran kepercayaan di Indonesia, karena informasi yang didapatkan selama ini hanya enam agama. Sehingga kehadirannya ke Sanggar Candi Busana tempat para penghayat Sapta Darma di Surabaya, Jawa Timur, beribadah dan beraktivitas mempunyai arti tersendiri.
"Jujur saya baru belajar, ternyata keberagaman agama dan kepercayaan itu tidak hanya enam agama yang diakui (negara), tetapi banyak sekali kepercayaan di Indonesia," ujar pelajar SMA Fons Vitae 1 Matraman, Jakarta Timur, itu.
Para peserta Peace Train 2, termasuk Christian, memperoleh berbagai informasi tentang keberagaman aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, terutama tentang sejarah, aktivitas ibadah, dan filosofi agama lokal Sapta Darma.
Peserta Peace Train 2 yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya Medan, Riau, Makassar, Sorong, Jabodetabek, Salatiga, Rembang, Malang, Lamongan, dan Surabaya, menempuh bersama-sama perjalanan keberagaman dan pergumulan iman, baik lahir maupun batin, dengan menggunakan kereta api.
Mereka dilepas secara simbolis menuju Surabaya Jumat (3/11) malam di Stasiun Gambir oleh beberapa tokoh agama,
Sabtu (4/11) kemarin, dimulai dengan mengunjungi Sanggar Sapta Darma, kemudian bergeser ke Pura Segara Kenjeran (Hindu), Masjid Ahmadiyah, dan malam Minggu berkumpul di Masjid Cheng Ho untuk melihat secara dekat bangunan rumah ibadah beragama Islam dengan arsitektur Tionghoa.
Di halaman masjid ini juga bersama-sama menggelar Pentas Budaya Bhinneka dan Narasi Lintas-iman yang melibatkan banyak pihak dan jaringan lintas-iman.
Minggu (5/11) pagi, mereka yang terdiri atas berbagai latar agama mengikuti ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gresik. Beberapa peserta yang menggunakan jilbab maupun santri-santri yang memakai kain sarung, peci atau kopiah pun dengan khidmat dan tidak canggung bersama-sama menjalani prosesi ibadah.
Setelah itu, mereka mengunjungi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Gresik, klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma Gresik Kim Hin Kiong Gresik, dan kembali menuju Surabaya ke Vihara Buddhayana Dharmawira Centre.
Dari kunjungan-kunjungan itu lah, selain untuk menimba informasi keagamaan juga menjadi ruang penggalian dan pengembangan nilai-nilai toleransi dan solidaritas lintas-iman.
Perempuan berjilbab dari Pekanbaru Laras Olivia, 21, sengaja ikut beribadah di GKI karena didorong rasa ingin tahu bagaimana prosesi ibadah dalam agama Kristen berlangsung.
"Sama sih seperti pengalaman saya ketika beribadah sesuai dengan syariat dalam agama saya. (Ada rasa) kedamaian," ungkap Laras saat menyampaikan kesannya pertama kali masuk gereja dan mengikuti ibadah agama Kristen.
Mahasiswi Universitas Islam Riau ini menaruh harapan sangat besar terhadap program Peace Train agar menjadi jembatan isu-isu keberagaman. Motivasinya begabung dalam kegiatan ini karena ingin bersama-sama anak muda lainnya bertekad menjalin kerja sama antariman.
"Jangan takut duluan dengan perbedaan iman. Selagi muda jangan tertutup, tapi terbuka, agar tidak termakan hoaks (SARA)," demikian pesan yang ia tekankan kepada kalangan milenial.
Sementara santri dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Muhammad Abdul Mujib, 23, menyampaikan motivasinya mengikuti Peace Train lantaran ingin memahami betul perbedaan agama dengan belajar langsung dari sumbernya. Ia sama sekali tidak khawatir mengikuti program lintas-iman akan memengaruhi dan menggoyahkan keimanannya.
"Selama beragama sebaik-baiknya, tidak usah khawatir dan cemas dengan agama lain. Toh semua agama mengajarkan kasih dan cinta," kata Mujib yang selama mengikuti Peace Train 2 ini selalu memakai kain sarung dan peci putih.
Di hadapan jemaat GKI Gresik dan peserta Peace Train 2, Anick HT mewakili inisiator program menyampaikan bahwa selama dua kali berjalan (Peace Train sebelumnya digelar di Semarang, Jawa Tengah), ia menyaksikan anak-anak muda demikian senang belajar dan berkarya bersama untuk berproses menjadi duta perdamaian.
Untuk itu lah, dengan mengacu pada besarnya sambutan para peserta maupun komunitas agama atau kepercayaan yang dikunjungi serta jaringan kerja lintas-iman yang mendukungnya, Peace Train ke depannya akan dilakukan secara luas ke daerah-daerah di Indonesia.
"Sambutan luar biasa ini sangat membanggakan. Melalui Peace Train, Indonesia masih bisa diharapkan dari generasi milenial," tegas Anick.
Meski demikian, Pemimpin Redaksi Inspirasi.co ini tidak mengabaikan betapa anak muda sekarang rentan sekali ketularan ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Hal tersebut disebabkan karena ketidaktahuan, sehingga sesuatu yang kecil pun bisa memicu konflik yang demikian besar.
"Peace Train sangat relevan bagi generasi milenial sebagai ruang untuk mengenalkan rumah ibadah dan nilai-nilai keagamaanya kepada mereka dengan cara menularkan energi-energi yang baik," pungkas Anick.
(RO/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved