ASI Eksklusif Cegah Alergi

MI/Mesi Shabrina
11/3/2015 00:00
ASI Eksklusif Cegah Alergi
(Huffingtonpost.com)
PREVALENSI alergi di Indonesia meningkat sejak lima tahun belakangan ini. Menurut Jose Saavedra, Chief Medical Officer of Nestle Nutrition, perbandingan anak yang mengalami alergi ialah 1:5. Itu artinya sebanyak 20% anak-anak sehat mengalami alergi.

Alergi merupakan reaksi tubuh untuk mengeluarkan unsur-unsur di luar tubuh (alergen). Bila berlebihan, reaksi itu bisa membahayakan nyawa orang tersebut.

Pada umumnya, alergi pada anak berupa atopikdermatitis atau ruam kemerahan pada kulit. Ketika anak tersebut tumbuh dewasa, alergi itu akan berubah menjadi asma.

Ruam merah pada anak bukanlah penyakit kulit yang menular, melainkan reaksi imunitas karena tidak bisa menoleransi protein. "Alergi paling besar ialah alergi terhadap protein susu sapi. Selain itu, (ada alergi) pada kedelai, telur, dan ikan," ucap Saveedra ketika ditemui pada diskusi media di Hotel JW Marriott, beberapa waktu lalu.

Faktor penyebab alergi ada dua, yakni genetik dan lingkungan. "Ibu yang memiliki alergi kemungkinannya 30% menularkan alergi kepada bayinya," ucap Zakiudin Munasir, dokter spesialis anak RSCM.

Karena itu, apabila seseorang mengidap alergi genetik, sebaiknya ciptakan lingkungan tinggal yang tidak memicu alergi kambuh. Alergi bisa jadi pembuka jalan untuk penyakit yang menyerang sistem imun lainnya.

Bahkan, alergi bisa berdampak pada kualitas hidup seorang anak. "Kalau penyakit infeksi, sekali diobati bisa sembuh. Namun, alergi ialah penyakit kronis, seumur hidup melekat. Misalnya, seorang anak yang alergi tidak bisa olahraga atau ketika ulangan alerginya kambuh jadi tidak bisa mikir," ujar Zakiudin.

Cegah sejak dini
Ketua Subdivisi Fetomaternal RSCM dr Noroyo Wibowo SpOG(K) mengatakan pentingnya menanamkan kesadaran pada orang tua mengenai alergi dan penyakit imunologi sejak sang ibu memasuki masa kehamilan. Dengan demikian, orangtua menjadi lebih waspada dan melakukan tindakan pencegahan primer sejak dini.

Menurut Saveedra, terdapat dua cara sederhana untuk mencegah alergi. Yang pertama yakni pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Kedua, pemberian susu sapi yang memiliki kandungan formula hidrolisat parsial kepada bayi yang tidak bisa mendapat ASI eksklusif.

"Formula hidrolisat parsial adalah pemecahan protein susu sapi menjadi partikel yang lebih kecil sehingga bayi tidak mengenalinya sebagai benda asing dan bisa ditoleransi oleh sistem imun bayi," ujar profesor dari John Hopkins University tersebut.

Ia menambahkan, selama masa kehamilan sang ibu tidak perlu menghindari mengonsumsi protein. Menurutnya, tidak ada bukti yang menjelaskan mengonsumsi protein selama masa kehamilan menyebabkan alergi. Menghindari konsumsi protein bisa menyebabkan penurunan kualitas ASI. "Bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki alergi bila diberikan ASI eksklusif akan menurunkan kemungkinan terkena alergi hingga titik terendah," ujar Saveedra.

Pencegahan alergi sedini mungkin sangat penting dilakukan karena selain bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang. Hal itu juga bisa menghemat beban ekonomi keluarga bahkan negara.

Berdasarkan studi Saveedra, prakiraan biaya untuk mengobati atopikdermatitis di Amerika Serikat ialah US$300-US$750 per bulan untuk seorang anak. Bila dikalkulasikan, dengan pencegahan alergi sedini mungkin, negara bisa menghemat US$500 juta per tahun.

"Kalkulasi ini berbeda-beda, tergantung kondisi suatu negara. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan ialah memberikan ASI eksklusif dan susu dengan formula hidrolisat parsial," tutup Saveedra. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya