Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTAMA dalam sejarah seni Minang, empat komponen seni sekaligus berangkat ke Eropa untuk menari, basilek (bersilat), salawat dulang dan berdendang.
Para seniman ini akan menghadiri acara West Sumatera Evening, 9-12 Desember 2017 di Bozar, Belgia.
Dalam beberapa bulan ini mereka sudah melakukan persiapan di Padang dan di Batusangkar. Rabu (26/10) malam mereka berkumpul di Sanggar nan Jombang untuk persiapan tim.
Salawat dulang misalnya, diambil dari jantung Luhak Nan Tuo Tanah Datar. Nama grupnya Sinar Barapi dan Panah Arjuna. Ini pertama mereka ke Eropa. Persiapan yang mereka lakukan lebih dari cukup.
"Yang disayangkan, pihak-pihak pemangku kewenangan dan kebijakan di sini tak banyak yang bertanya dan menyapa," kata koordinator Ery Mefri di Padang, Sumatra Barat, Kamis (26/10)
Selain sawalat dulang, sejumlah pesilat dan peniup saluang dari Kuranji, Padang juga akan menghadiri acara serupa. Anak-anak silek dari sasaran ini semangatnya seperti Achmad Husein muda, komandan Harimau Kuranji Tempo Doeloe.
Bukan karena ingin ke Eropa, tapi basilek di Eropa itu yang mereka mau. Apalagi di Eropa silek Minang sudah dikembangkan.
Nan Jombang sebagai koordinator dalam tur Eropalia ke Prancis, Belanda, Begia dan Austria ini tak sekadar mengkoordinir, tapi membawa karya tari Rantau Berbisik. Karya ini dibuat 2007 dan premier 2009 untuk selajutnya telah melakukan pementasan di Bribane, Adelaide, Caine dan Darwin, Australia. Kemudian di Rhode Island, New York, Washington dan Los Angeles, Amerika,
Kemudian juga ke Berlin dan sejumlah negara di Asia seperti Filipina, Korea Selatan, Singapura, hingga Jepang, serta di beberapa ajang serta kota di Indonesia.
Menurut Ery Mefri, sejak pertemuan awal semua tim Eropalia 7-9 Juni 2017 di Jakarta, sudah tercium hal-hal yang berbau diskriminasi untuk peserta dari daerah.
"Kami di Nan Jombang sudah sangat merasakan hal itu," ungkapnya.
Diskriminasi itu, mulai dengan tidak digubrisnya masalah jadwal keberangkatan dan kepulangan tim. "Ada beberapa catatan saya soal itu," tandasnya.
Ia mencatat, tidak diberi waktu pada peserta dari daerah untuk penyesuaian pada pentas dan letting yang diperlukan sebelum pertunjukan. Kemudian, selesai pertunjukan malamnya, keesokan pagi harus kembali ke Tanah Air tanpa punya waktu untuk berkemas.
"Kami tidak bisa pulang sama-sama, tapi berpencaran. Ini bukan hanya menyulitkan, tapi bisa menibulkan masalah keimigrasian," tukasnya lagi. Apalagi yang ia bawa seniman tradisi belum pernah ke luar negeri.
"Oleh panitia di Jakarta, kami dikucilkan dari publikasi seolah tidak ada," papar Erry.
Ia mengungkapkan buktinya pada 10-14 Juli, Indonesia kedatangan tim Belgian Press Trip utk meliput tim Indonesia yang akan berangkat ke Eropalia. "Jurnalis itu dibawa ke Solo dan Yogya, sedang kita tidak diberi tahu," katanya dalam keterangannya, Kamis (26/10).
Tak hanya dikucilkan dari publikasi, tapi jam pementasan anak-anak Padang dipotong dari semua dua jam menjadi satu jam saja.
"Kuratornya dikomandoi Sal Margianto, ini bagaikan disetting agar penampilan dari Sumatera Barat sengaja dibuat tidak lengkap oleh tim Eropalia bersama kurator-kuratornya. Dengan demikian kami ditenggelamkan," tukasnya lagi.
Bahkan di media sosial seperti Facebook, Eropalia Indonesia tak terlihat ada berita dan ulasan tentang pertunjukan Sumatera Barat.
"Sampai detik ini kita sangat buta dengan informasi dan komunikasi untuk segala kebutuhan dalam pertunjukan di Eropalia itu. Seolah ada persaingan bisnis, padahal tidak," imbuhnya yang diamini penari Angga Mefri.
Meski begitu, Nan Jombang akan tetap kukuh melangkah menuju Brussel dan Austria dalam Eropalia, Desember mendatang. Tak hanya itu, mereka juga akan melakoni trip ke beberapa negara tahun berikutnya. Ini guna menambah panjang daftar perjalanan 'Rantau Berbisik'.
Seniman tradisi dan Nan Jombang berharap ada kepala daerah di Sumatra Barat yang datang melihat penampilan mereka di Eropalia, 9-11 Desember nanti di Belgia dan Austria. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved