Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA riset Mckinsey Global Institute memprediksi Indonesia akan memiliki bonus demografi pada 2030. Jumlah penduduk usia produktif akan berjumlah dua kali lipat dari penduduk usia tua atau usia bayi. Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal, mengatakan, bonus demografi itu justru akan menimbulkan bumerang demografi jika tidak diantisipasi.
"Jika para pemangku kebijakan tidak mengantisipasi bonus demografi, para anak muda tersebut malah akan menghabiskan sumber daya alam. Bangsa kita pun akan gagal membawa kesejahteraan dan keadilan," kata Rizal dalam seminar Edutech Festival 'Mengukir Senyum Pendidikan Indonesia' di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (25/10).
Dia berpandangan generasi muda saat ini mesti produktif dan inovatif serta menguasai ilmu pengetahuan dan literasi teknologi.
"Generasi muda harus siap menghadapi era disruptif teknologi. Di masa mendatang mereka harus memiliki etos kerja, sikap terbuka, serta mampu bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat," kata Rizal yang juga dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada tersebut.
Lulusan S3 Monash University, Australia, itu, pun mewanti-wanti para pemuda agar tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi dan karena akan bersifat kontraproduktif dan dapat memicu menyempitnya wawasan.
"Mereka justru enggan bekerja sama dan mengelompok dengan orang yang sepaham saja dan menghakimi pendapat yang berbeda dengan dirinya," lanjut dia.
Lebih lanjut, Rizal yang juga pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) itu mengingatkan pentingnya membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan globalisasi dan revolusi informasi digital. Yakni sistem pendidikan yang terbuka serta memanusiakan manusia, bukan sistem pendidikan yang menyeragamkan yang dibangun dengan asumsi masa lalu.
"Sistem itu akan melahirkan sekolah-sekolah masa depan. Sekolah yang menyenangkan, yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak manusia, yang membangun tiga aspek dasar ketrampilan manusia untuk hidup di era digital, yakni memiliki keseimbangan olah pikir, olah perilaku (karakter), serta etos kerja yang kuat dan gigih," cetusnya.
Menurut Rizal, anak-anak muda kini dapat mempercepat perubahan dengan cara-cara milenial. "Seperti menjadi relawan yang menyiapkan sekolah sekolah masa depan yang mengelaborasi konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara secara modern dan kekinian."
Sependapat dengan Rizal, Sekretaris Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Deni Hardianto, mengungkapkan saat ini dunia sedang dilanda disrupsi (gangguan) dengan hadirnya media baru berupa teknologi informasi dan internet.
"Oleh karena itu pendidikan harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ke depan sekolah harus dibuat menyenangkan, membahagiakan, dan menyehatkan seperti yang ada di Finlandia," kata Deni.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Haryanto, menegaskan di masa depan akan ada banyak profesi yang hilang akibat disrupsi teknologi. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia belum menyiapkan anak-anak didik untuk menghadapi era tersebut.
"Di Indonesia siswanya Abad 21, gurunya Abad 20, dan kelasnya Abad 19. Terdapat perbedaan yang cukup jauh. Saya berharap bidang teknologi pendidikan harus mengambil peran untuk mendekatkan gap-gap tersebut," pungkas Haryanto. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved