HSP 2017 Jadi Momentum Wujudkan Sentra Pemberdayaan Pemuda

Ghani Nurcahyadi
23/10/2017 18:22
HSP 2017 Jadi Momentum Wujudkan Sentra Pemberdayaan Pemuda
(Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Faisal Abdullah. Foto: Ist)

MENYAMBUT momentum Hari Sumpah Pemuda (HSP) 28 Oktober 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga terus berupaya untuk mengimplementasikan konsep atau kebijakan Sentra Pemberdayaan Pemuda (SPP). Implementasi kebijakan ini diharapkan bisa diterapkan di berbagai daerah, bahkan hingga ke tingkat desa.

"Sentra ini menjadi penting karena kita dorong untuk menjadi tempat aktivitas sahabat pemuda secara positif,” ujar Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Faisal Abdullah, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/10).

"Merujuk pada Permenpora Nomor 32 Tahun 2016 tentang Sentra Pemberdayaan Pemuda, sentra ini bisa menampung aktivitas pemuda pada beragam peminatan seperti kreativitas, iptek/pendidikan, seni budaya, olahraga, imtak (iman dan takwa), dan sebagainya," tambahnya.

Menurut Faisal, agar kebijakan tentang SPP ini dapat dilaksanakan di daerah-daerah secara legal dan tersistem, telah dilakukan pembahasan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK)-nya bersama Kementerian Dalam Negeri. Diharapkan agar pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, bahkan desa dapat mengalokasikan anggaran masing-masing sebagai bentuk dukungan teknis kegiatan SPP.

"Kalau tidak bergotong royong seperti ini, sangat sulit kebijakan Kemenpora dapat menjangkau lebih dari 60 juta pemuda di Indonesia. SPP ini sebetulnya bersifat generik. Nama aktivitas sahabat pemuda itu bisa apa saja, termasuk kepramukaan, pencinta alam, sanggar seni/musik, remaja mesjid/gereja, palang merah remaja dan sebagainya. Jadi, dapat bermitra dengan siapa saja di pusat dan daerah, termasuk Karang Taruna," terang Faisal.

Di tingkat desa, Kemenpora telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), antara lain berkenaan dengan pemberdayaan pemuda di desa. Faisal menunjukkan bahwa salah satu kegiatan konkretnya adalah teknopreneur muda di perdesaan.

"Mereka itu jadi role model peran pemuda di perdesaan. Tahun ini kita tempatkan 79 pemuda sebagai role model di 34 provinsi. Insya Allah tahun depan (2018) akan kita perluas cakupannya ke banyak kabupaten. Demikian seterusnya hingga 2019, mengoptimalkan penggunaan dana desa dari APBN. Setiap desa diharapkan ada produk atau jasa unggulan karya para sahabat pemuda hebat. Mari kita bangun Indonesia dari pinggiran (desa)," pungkas Faisal. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya