Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 68,91% pelajar mengaku merokok karena terpengaruh iklan rokok baik yang ditayangkan di media-media massa, maupun dalam bentuk spanduk yang dipasang dalam berbagai kegiatan.
Temuan ini diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang melakukan riset terkait ‘Hubungan Antara Status Merokok pada pelajar dnegan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Pulau Jawa.” Penelitian dilakukan dengan menyebar quesioner kepada siswa sekolah menengah di enam Ibu Kota Provinsi se-Jawa. Total responden dalam penelitian ini adalah 1261 pelajar dengan rentang usia 8-16 tahun. “Dan kami dapatkan bahwa mayoritas yang merokok atau mencoba merokok di kalangan pelajar itu salah satu faktornya adalah iklan, yaitu sebesar 68,9 %,” kata Ketua Umum PP IPM Velandani Prakoso saat memberikan keterangan hasil riset di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).
Temuan ini lanjut dia linear dengan tanggapan para pelajar yang menilai bahwa iklan rokok memiliki daya persuasi tinggi karena menarik. “Kita memang bisa saksikan sendiri hampir semua iklan rokok itu menarik. Ada gambaran maskulin untuk yang laki-laki yang suka melakukan petualangan. Nah gambaran seperti ini yang membuat banyak anak muda terpapar. Belum lagi yang beredar melalui spanduk dalam berbagai kegiatan yang disponsori oleh perusahaan rokok,” jelasnya.
Dari gambaran ini menurut dia, setidaknya menjadi masukan bagi pemerintah bahwa regulasi pembatasan iklan melalui PP 109 tahun 2012 belum sepenuhnya efektif. Seoerti diketahui, selama ini PP ini mengatur jam tayang iklan rokok setelah Pukul 21.30 sampai 05.00, termasuk melarang iklan, promosi dan sponsor rokok untuk anak di bawah usia 18 tahun. “Namun dari temuan kami, setidaknya ada 26,1 % mengaku pernah ditawari rokok dengan harga diskon bahkan gratis. Dan sebanyak 14,51 % juga pernah mendapat sponsor atau bahkan ikut kegiatan yang disponsori oleh industri rokok,” jelas Prakoso.
Dia juga menambahkan, setidaknya dengan temuan ini pemerintah dan DPR yang sedang menggodok UU Penyiaran bisa memperhatikan hal ini. “Kalau dari hasil riset kami, sebaiknya iklan rokok dihentikan saja secara total karena ini menjadi bagian dari upaya melindungi generasi muda sebagai terget industri rokok untuk diajdikan perokok pemula,”tegas mahaasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.
Dari riset ini juga didapatkan data bahwa sebanyak 18,65 % pelajar mengaku pernah merokok dan 81,44 % tidak pernah merokok. “Angka 18 persen ini untuk perokok pemula tentu menjadi peringatan, bahwa ini sudah cukup membahayakan kalangan pelajar-pelajar di Indonesia, secara khusus di Pulau Jawa,” pungkasnya. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved