KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan meningkatkan kewaspadaan terhadap daerah-daerah yang rentan terhadap kebakaran, terutama Riau, menjelang akhir musim hujan. Pasalnya, selama ini Riau terkenal dengan kebakaran hutan yang acap terjadi di sana.
"Sampai tadi pagi (kemarin pagi) saya masih bertelepon dengan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Syamsul Maarif. Kami akan intensifkan agenda-agenda pradarurat atau siaga darurat bencana," ujar Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Siti mengatakan dirinya telah melaporkan langkah-langkah bersama BNPB dan Gubernur Riau beserta tim daerah kepada Presiden Joko Widodo. Karena itu, sejak 3 Maret misalnya, pemerintah sudah mengembangkan modifikasi cuaca yang dioperasikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Tahap ini akan dijalankan sampai akhir Maret," tandasnya.
Ia menambahkan, pihaknya sudah meminta dukungan BNPB pada jajaran daerah dan masyarakat untuk siaga dengan membangun sekat-sekat kanal di lahan gambut masyarakat. Pasalnya, sekat-sekat kanal di lahan gambut masyarakat terbukti bisa bisa menurunkan titik-titik api seperti yang terjadi di Sei Tohor, Kepulauan Meranti, Riau.
Menurut dia, nantinya sekat kanal itu dibuat masyarakat dengan dukungan dana BNPB melalui Pemerintah Provinsi Riau. Sekat tersebut juga diminta untuk diterapkan di kanal-kanal milik swasta.
"Kepada dunia usaha juga kami ingatkan bila lahannya terbakar, tapi malah didiamkan, akan kami tindak," pungkas Siti.
Mulai berasap Sabtu (7/3) pagi, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan mulai menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau. Berdasarkan Satgas Siaga Darurat Asap Riau, alat pemantau indeks standar pencemar udara menyatakan kandungan partikel PM10 di udara pukul 07.00 WIB mencapai angka 131.
Artinya, polusi asap di udara makin parah dalam status tidak sehat. Imbasnya, jarak pandang di Pekanbaru, Riau, turun menjadi sekitar 1,5-2 meter karena diselimuti asap.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sugarin menyatakan asap yang menyelimuti Pekanbaru ialah kiriman dari wilayah utara Riau yang terbakar beberapa hari lalu.
Sementara itu, Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan terdapat potensi tinggi kebakaran hutan seperti di Riau dan Jambi pada musim kemarau yang diperkirakan terjadi bervariasi di rentang Maret hingga Juni 2015.
Terdapat daerah-daerah yang mulai mengalami transisi musim menuju kemarau pada Maret, seperti Sumatra bagian timur dan Kalimantan bagian utara. Selanjutnya pada April, pergantian musim terjadi di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat kemudian di sebagian Sulawesi tepatnya di bagian selatan.
"Secara berangsur-angsur di sebagian besar Pulau Sumatra, kemarau mulai terjadi awal Juni 2015. Kalau kering, tentu masyarakat harus berhati-hati agar kebakaran hutan tidak terjadi," kata Andi.
Andi juga mengingatkan potensi bencana terkait dengan perubahan iklim dari penghujan menuju kemarau. "Saat transisi musim ini sering terjadi angin kencang, angin puting beliung, dan hujan es di beberapa tempat."