Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK stunting (berperawakan pendek) masih menjadi salah satu permasalahan di Indonesia. Persoalan stunting bukan sebatas tinggi tubuh yang kurang. Stunting merupakan pertanda si anak telah mengalami kekurangan gizi kronis, terutama pada masa 1.000 hari kehidupannya (dihitung dari masa janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun).
Disebabkan oleh kekurangan gizi berkepanjangan, berbagai penelitian membuktikan stunting tidak hanya berdampak pada tubuh yang pendek. Melainkan juga gangguan-gangguan lain, termasuk kurangnya kecerdasan.
Yang mengkhawatirkan, di Indonesia prevalensi anak stunting masih tergolong tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan angka stunting pada balita Indonesia mencapai 37,2%. Untuk mencegah <i>stunting<p>, para orangtua wajib memberikan asupan gizi yang baik pada anak.
"Penting sekali bagi keluarga untuk dapat memberikan ASI eksklusif (ASI saja) sampai bayi berusia 6 bulan dan melanjutkannya dengan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) tepat waktu, tepat bentuk, mengandung cukup energi, protein dan zat gizi mikronutrien, dan dengan cara pemberian yang tepat," ujar dokter spesialis anak Julistio Djais pada peluncuran kampanye Milna 1st Bite Day 2017 oleh Kalbe Nutritionals di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dokter spesialis anak pada Bidang Nutrisi dan Penyakit Metabolik di Rumah Sakit Hasan Sadikin-Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran itu melanjutkan, WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Setelahnya, si kecil diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai dan aman. Adapun pemberian ASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun.
"Keluarga harus memahami pentingnya pemberian makan yang sesuai pada masa ini dan dampaknya bila periode emas dalam 1000 hari pertama kehidupan ini dilewati si kecil dengan kurang baik," kata Julistio.
Program edukasi
Pada kesempatan sama, Helly Oktaviana, Business Unit Head Nutrition for Infant and Baby–Kalbe Nutritionals, menjelaskan pihaknya membantu meningkatkan pengetahuan para ibu tentang pemenuhan nutrisi anak. Antara lain melalui kampaye Milna 1st Bite Day. Ia menjelaskan kegiatan itu dijalankan di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta, dengan target mengedukasi 5.000 ibu akan pentingnya nutrisi tepat selama 1.000 hari pertama kehidupan si kecil.
Kampanye itu digelar dalam bentuk interactive talkshow dengan dokter spesialis anak. Juga dihadiri oleh Brand Ambassador Milna 2017 yaitu Tya Ariestya bersama anaknya, Muhammad Kanaka Ratinggang.
Melalui kampanye itu, diharapkan pengetahuan ibu akan gizi anak terus meningkat. Seperti, pemahaman bahwa anak usia 6 bulan harus diberi MP-ASI yang aman dan mencukupi kebutuhan gizi. Meskipun lambungnya kecil, bayi membutuhkan banyak nutrisi untuk tumbuh dan beraktivitas.
"Seperti dinyatakan WHO, the smaller the child, the more often he or she needs to be fed," imbuh Helly.
Selain melalui program edukasi, lanjut Helly, milna yang tahun ini memasuki usia 30 tahun juga terus berinovasi untuk menghasilkan produk berkualitas, seperti Milna Bubur Bayi Organik.
"Milna merupakan bubur organik pertama di Indonesia yang memberikan nutrisi baik dari alam untuk momen makan pertama si kecil," ujarnya.
Dokter Julistio juga mendukung penggunaan bahan-bahan organik untuk MP-ASI. Menurutnya, bahan organik diperoleh dari pertanian yang tidak menggunakan zat-zat sintetis seperti pestisida dan pupuk kimia serta dari peternakan yang memiliki pengawasan ketat dalam penggunaan antibiotika dan hormon pertumbuhan.
"Paparan zat-zat negatif terhadap bahan pangan organik sangat minimal, sehingga kualitas bahan pangannya meningkat," ujarnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved