Tanggalkan Seragam PNS, Rifa Ariani Sukses Ubah Dunia Pendidikan

10/8/2017 22:30
Tanggalkan Seragam PNS, Rifa Ariani Sukses Ubah Dunia Pendidikan
(ist)

KEGUNDAHAN hati terhadap pendidikan sang buah hati membawa Rifa Ariani sukses menjadi seorang Direktur Utama Sekolah Global Mandiri. Kini, ia menjadi sosok yang cukup berpengaruh dalam perubahan dunia pendidikan.

Cita-citanya mendirikan sekolah berbasis internasional akhirnya tercapai. Tak tanggung-tanggung, Rifa kini menjabat di empat lembaga pendidikan sekaligus. Ia menjabat direktur di Legenda Wisata Cibubur dan Sekolah Global Mandiri, Jakarta Garden City, Cakung. Selain itu, Rifa menjabat Ketua Yayasan Politeknik Kent Prasetya Mandiri, Bogor, dan di Politeknik Darussalam, Palembang.

Wanita yang menempuh pendidikan di Palembang, Sumatra Selatan, sejak duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi itu pun berbagi kisah suksesnya.

"Pertama kali saya tertarik dalam dunia pendidikan adalah ketika saya ingin memasukkan anak-anak saya ke TK dan SD yang ada di sekitar rumah," katanya mengawali kisahnya, Kamis (10/8).

Namun, kala itu sekolah yang bagus di dekat rumahnya berbasis agama tertentu. Hal itu pun berpengaruh pada perilaku anaknya. Setelah memasukkan anaknya di sekolah berbasis agama, ia merasa anaknya menjadi eksklusif, lebih suka berinteraksi dengan teman seagama.

"Padahal, Indonesia masyarakatnya plural, hidup bersama orang yang berbeda latar belakang suku, agama, dan ras menjadi keseharian," tuturnya.

Kemunculan sekolah internasional pun menarik minat Rifa untuk menyekolahkan anaknya di tempat tersebut. Alasannya tentu saja karena pengajarannya menggunakan bahasa internasional, Bahasa Inggris, kemudian fasilitas yang baik serta kurikulum internasional dan banyak pengajar asing.

"Tapi biayanya kok sangat mahal," keluhnya.

Berawal dari situ, Rifa berniat mendirikan sekolah sendiri. Ia rela menanggalkan seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS), hingga akhirnya berdirilah Sekolah Global Mandiri yang mengedepankan pluralisme. Sekolah ini memakai kurikulum nasional dan internasional serta menerapkan metode fun active learning di lahan seluas 2 hektare.

"Saya mendirikan sekolah umum agar anak-anak Indonesia yang berbeda suku, agama, dan ras terbiasa berbaur sejak dini untuk mengembangkan toleransi dan kerja sama," lanjutnya.

Tak berhenti di situ, wanita yang hobi traveling ini kembali membuat terobosan di dunia pendidikan. Ia memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus (autis) untuk dapat sekolah di tempatnya, bahkan hingga Diploma 3. Ide itu muncul setelah Rifa melihat banyak anak autis di sekitarnya dan membutuhkan tempat layak untuk belajar, bersosialisasi, dan berkembang.

"Dan kami ingin mereka mendapatkan hal itu semua di sekolah kami. Education for All, All for Education," cetusnya.

Untuk program D3 khusus untuk autis sudah dibuka sejak 2015 lalu, yang mana sebelumnya mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Dan yang menjadi inspirasinya untuk membuka Program D3 ialah adanya kebutuhan para siswa ABK untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mereka juga punya talenta yang bisa dikembangkan dan arahkan.

Sibuk di dunia pendidikan tak membuat alumni Universitas Sriwijaya (Unsri) ini melupakan tanggung jawab seorang istri dan ibu. Ia dan suami telah menerapkan konsep kerja sama dari awal pernikahan hingga saat ini. Keluarga memberikan dukungan yang kuat padanya untuk mengemban tugas mulia di bidang pendidikan.

"Kami saling mendukung dan memberikan kontribusi yang sama besar terhadap perusahaan kami masing-masing," jelas ibu tiga anak ini.

Ia menilai pendidikan di Tanah Air sudah cukup baik, dengan pemerintah sudah memperhatikan juga untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Harapannya, semoga lebih banyak lagi tokoh-tokoh yang mau memperhatikan pendidikan demi kemajuan bangsa.

"Anugerah dan pencapaian sampai saat ini masih banyak yang masih harus diperkuat dan diperjuangkan dalam dunia pendidikan. Saya tetap berkeinginan untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan," tutupnya. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya