Pesantren di Jatim Harus Jadi Sentra Produk Halal

06/8/2017 23:39
Pesantren di Jatim Harus Jadi Sentra Produk Halal
(Ist)

PESANTREN harus bisa menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi masyarakat, khususnya di Jawa Timur.

Dengan jumlah pesantren yang mencapai 4.000, sudah seharusnya bisa menjadi motor penggerak penguatan ekonomi tersebut. Pesantren bisa menjadi basis atau sentra produk halal.

"Jatim ini gudangnya pesantren. Setidaknya ada 4.000 pesantren di sini. Tapi harus jujur diakui kita tidak mendengar adanya produk halal yang diproduksi dari sana. Padahal jika ini manfaatkan dengan kreatif, potensinya sungguh dahsyat," ujar Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattaliltti, Minggu (6/8).

Dalam hitung-hitungan La Nyalla, pasar produk halal di Indonesia sangat tinggi karena ini negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan penguasaan tersebut, umat muslim dan santri akan sangat sejahtera.

"Di dunia ada sekitar 1,5 miliar muslim, dengan 23% berada di Indonesia. Kalau kita bisa menguasai pasar produk halal di Indonesia saja, tidak perlu dunia, umat dan santri akan sangat sejahtera," tambah La Nyalla saat bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin asuhan KH Luqman Hidayat di Plaosan, Magetan.

Sayangnya, hingga kini usaha ekonomi pesantren di Jatim belum dioptimalkan karena hanya dipandang dari aspek pendidikan dan politik. Padahal, lanjut La Nyalla, sejatinya muslim itu harus harus mandiri, sejahtera, dan mampu berniaga tanpa meninggalkan akhlak mulia. Lebih parah lagi, ada pihak yang menilai pesantren dari sisi politik saja, cuma diambil sisi elektoralnya menjelang pilkada.

"Sebagai pengusaha, saya terbiasa berpikir out of the box. Sudah saatnya koperasi-koperasi pesantren tidak lagi berorientasi ke dalam. Tidak nyaman dengan hanya punya pasar santri pondok dan lingkungan sekitar. Pesantren harus menjadikan umat Islam di seluruh dunia menjadi sasaran market," tegasnya.

Mantan Ketua Umum PSSI ini memberikan solusi, hal itu bisa digarap melalui sentuhan kolaborasi antarpesantren dalam mengembangkan 'Halal Produk Made In Pesantren'.

"Bisnis harus efisien. Kita bangun jaringan. Misalnya, kita akan mulai mimpi besar merajai pasar halal food. Sinergikan pesantren di basis pertanian, seperti Magetan dan sekitarnya, mereka bisnis hulunya. Lalu gabungkan dengan pesantren yang dekat lokasi pasar terbesar, seperti Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, Lamongan. Mereka bikin bisnis hilirnya. Kalau perlu kita buka di mal-mal di seluruh Indonesia dengan brand halal ala pesantren Jatim," tukas La Nyalla.

Kalau ingin lebih jauh lagi, pesantren bisa menggarap bisnis halal berorientasi ekspor, mulai dari makanan sampai kosmetik. Terlebih pasar Timur Tengah sangat besar. "Mereka masih mengimpor produk makanan dan minuman dari negara lain. Ketika bertemu Dubes Turki, saya mendapat informasi puluhan juta penduduknya masih makan dan minum dari impor. Nah, pesantren harus ambil peluang ini," tegasnya.

Potensi lain yang bisa dibidik adalah wisata halal (halal tourism). Ada banyak wilayah yang bisa dijadikan sasaran. "Jatim punya alam indah misalnya di Pulau Madura, di Sumenep keren pantainya. Di sana basis pesantren. Pemprov Jatim bisa langsung intervensi dan membangun brand halal tourism di sana. Undang turis Timur Tengah, kerja sama dengan maskapai mereka. Undang endorser berpengaruh seperti Maher Zain untuk wisata ke sana," tambahnya lagi.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantreen Hidayatul Mubtadiin KH Luqman Hidayat mengatakan, pesantrennya kini mempunyai sejumlah usaha, seperti ternak sapi, produksi tahu, pertanian, dan gerai ritel. Namun, selama ini belum ada terobosan berarti, karena minimnya pemberdayaan.

"Kami mengharapkan pemimpin yang bisa membimbing pesantren mampu mencetak wirausahawan. Pak La Nyalla memenuhi kriteria tersebut karena beliau pengusaha," ujarnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya