Gairah Para Milenial Belajar Memimpin

Iis Zatnika
22/6/2017 16:10
Gairah Para Milenial Belajar Memimpin
(MI/Iis Zatnika)

KERTAS putih berukuran A 3 itu terbagi atas kotak-kotak dengan tulisan Key Partner, Value Proportions hingga Revenue Streams. Business Model Canvas (BMC) itu kemudian diisi Euginia Lievira dengan agendanya mengembangkan bisnis studio foto dan jasa perencana pernikahan di Merauke, Papua, usaha milik orangtuanya yang menanti kontribusinya usai lulus nanti.

Kertas-kertas yang semula berisi daftar isian itu pun segera menjadi penuh warna. Berbagai mimpi, dan sebagian telah menjadi agenda di depan mata, dituliskan dalam kanvas alias kertas isian yang bertuliskan rencana bisnis itu.

Jika Euginia, mahasiswa semester lima Manajemen Bisnis Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis PPM itu mengisi kanvasnya tentang bisnis yang telah eksis, namun diagendakannya akan dikembangkan seiring bertumbuhnya ekonomi di salah satu kabupaten terluar di nusantara itu, maka Desmon Daniel, mahasiswa Akuntansi Bisnis, melukisnya dengan usaha rintisan penyelenggara acara.

"Seru kayaknya bikin bisnis EO, sesuai passion aku," kata Desmon yang bersama Euginia serta puluhan mahasiswa PPM lainnya menjadi peserta Pelatihan BMC di Auditorium PPM Manajemen, Jakarta, Rabu (21/6).

Belajar dari praktisi
Selain pelatihan BMC yang dipandu Abbie Abdillar, pendiri Studio Hiji, produsen furnitur, ada pula sesi berbagi kiat merintis bisnis dari Prabu Revolusi, pendiri Prabu Steak serta Khairiyyah Sari, pendiri lanangindonesia.com. Sedangkan, data tentang serunya dunia e-commerece dibawakan Haikal Bekti Anggoro, Head of Online Marketing Lazada Indonesia.

"BMC ini sebenarnya juga kami ajarkan, baik bagi mahasiswa S 2 maupun S 1. Bagi mahasiswa S1, pada semester lima dan enam, mereka mendapat mata kuliah entreprenuership, mulai teori dilanjutkan praktik. Itu mata kuliah wajib bagi mahasiswa manajemen bisnis, serta pilihan bagi jurusan akuntansi bisnis," ujar Annisa Dwiyana, Kordinator Kemahasiswaan dan Core Faculty di PPM School Of Management usai membuka acara yang diselenggrakan bekerjasama dengan Lazada Indonesia itu.

Keterampilan berwirausaha, kemudian dipacu kembali dalam program inkubator. Kampus, bahkan menyediakan kafe yang bisa menjadi wahana mahasiswa menguji keterampilannya, sekaligus mengamati dan mengatasi berbagai gap, tantangan yang harus dihadapi.

Dukungan sistem
Ikhtiar memoles para wirausaha itu pun berkorelasi dengan kampanye Transformasi Membangun Keunggulan jelang 5 dekade kampus itu. Salah satu fokusnya, menciptakan kepemimpinan transformasional.

Selain berjumpa para praktisi berkat kolaborasi kampus dengan berbagai institusi, upaya mnegasah keterampilan memimpin juga diupayakan dengan dukungan sistem dan tentunya lingkungan kampus.

"Aku sudah dua kali nge-lead, itu memungkinkan karena sistem di sini, setiap orang punya kesempatan bahkan diwajibkan belajar jadi pemimpin. Aku jadi leader di acara company visit, ke Bank Indonesia pada Februari 2017 dan Astra Honda Motor pada Mei 2017. Juga sempat buat kampanye soal SDGs atau Sustainable Development bersama UNDP. Kami fokus ke kontribusi bidang ekonomi dan edukasi," kata Euginia.

Memimpin 15 orang anggota panitia pada kampanye di November 2016 itu, serta dua kunjungan perusahaan itu, lanjut Euginia, membuatnya tuntas mengumpulkan persyaratan kelulusan yang disebutnya poin.

"Untuk dapaat poin, syaratnya ikut 3-4 partisipasi di acara kampus. Tapi, walau begitu aku juga akan lanjut terus di kegiatan seperti ini, karena banyak tantangannya, harus kasi motivasi, menyadarkan tim bahwa pengorbanan ini worth it, kegiatan sperti ini seru banget, aku sekarang jadi manager project di salah satu unit kegiatan mahasiswa, Jakarta Internasional Economic Societies," ujar Euginia.

Tujuan bersama
Implementasi upaya mengasah calon pemimpin di berbagai sektor itu pun berwujud pada kesibukan Desmon sebagai Pemimpin Redaksi di majalah kampus Cognito.

"Kami terbit tiap tiga bulan, juga punya situs, nah di sini kami belajar cara mengatasi tantangan membagi waktu, mengasah skill reportase dan pengembangan organisasi. Di sini saya belajar bagaimna nge-lead itu harus mengarahkan tim untuk punya tujuan yang sama, goals, mengembangkan diri, sehingga harus ada pembagian kerja, serta kemampuan mengatasi tantangan teknis," ujar Desmon. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya