Tiga Provinsi Tetapkan Siaga Darurat Karhutla

Indriyani Astuti
22/6/2017 14:47
Tiga Provinsi Tetapkan Siaga Darurat Karhutla
(ANTARA)

ANTISIPASI dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan pemerintah dan pemerintah daerah. Hingga saat ini Gubernur di tiga provinsi langganan karhutla telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla yaitu Provinsi Riau (24/1/2017 hingga 30/11/2017), Sumatra Selatan (30/1/2017 hingga 30/11/2017), dan Kalimantan Barat (1/6/2017 hingga 31/10/2017).

Ancaman karhutla terus meningkat seiring dengan makin keringnya musim kemarau. Diperkirakan puncak musim kemarau pada Agustus 2017 mendatang.

Dengan ditetapkannya siaga darurat maka secara administrasi dan teknis dapat melakukan upaya kemudahan akses pengerahan sumber daya dan koordinasi lebih mudah dalam penanggulangan karhutla. Sementara itu, daerah lain yang sering terjadi karhutla belum ada penetapan siaga darurat seperti Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Papua.

Untuk mengefektifkan pencegahan dan penanggulangan karhutla, BNPB telah mengerahkan 12 helikopter water bombing dan 2 pesawat hujan buatan untuk ketiga provinsi tersebut.

"Enam helikopter water bombing ditempatkan di Riau yaitu 4 heli di Pekanbaru dan 2 heli di Dumai, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers pada Kamis (22/6).

Adapun enam Helikopter water bombing yang di operasikan di Riau adalah jenis Sikorsky, MI-171, MI8 MTV-1, MI-172 dan Bolkow yang memiliki kapasitas 600 – 4.000 liter.

Sutopo juga mengatakan di Sumatra Selatan dioperasikan 3 helikopter water bombing jenis MI-17 dan Bolkow, dan 2 pesawat terbang Casa 212 untuk hujan buatan. Operasi hujan buatan juga telah digelar di Sumatra Selatan sejak 8/6/2017.

"Setiap hari awan-awan potensial di atas sekitar Sumatera Selatan disemai dengan bahan NaCl untuk dijatuhkan menjadi hujan," katanya.

Sedangkan di Kalimantan Barat, dioperasikan 3 helikopter jenis Bel-214B, MI-8 dan Kamov yang berkapasitas 3.000 – 5.000 liter.

Pengerahan 12 helikopter water bombing dan 2 pesawat hujan buatan merupakan salah satu dari strategi operasi penanggulangan karhutla. Ada lima strategi yaitu operasi pemadaman di darat, operasi pemadaman udara, operasi penegakan hukum, operasi pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Hingga saat ini jumlah hotspot (titik panas) yang terdeteksi oleh satelit menunjukkan adanya penurunan dibandingkan dengan sebelumnya. Jumlah hotspot dari satelit Modis (Terra Aqua) dengan tingkat kepercayaan 80% yang artinya terbakar pada tahun 2015 sebanyak 2.810 titik, pada tahun 2016 sebanyak 1.917 titik, dan tahun 2017 sebanyak 157 titik.

Selama tahun 2017 (hingga Juni 2017) terjadi penurunan hotspot sebanyak 1.681 titik atau 91,45% dibandingkan dengan periode yang sama di 2016.

Begitu juga dengan luas hutan dalan lahan yang terbakar juga menunjukkan penurunan. Luas hutan dan lahan yang terbakar pada 2015 sebanyak 2,61 juta hektare, pada 2016 sebanyak 438 ribu hektare, dan tahun 2017 sebanyak 15.983 hektare.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari 15.983 hektare hutan dan lahan yang terbakar terdapat di lahan gambut 5.922 hektare dan tanah mineral 10.061 hektare.

"Mengingat jumlah hotspot harian dan karhutla di beberapa Provinsi (Jambi, Kalbar, Kalteng) meningkat serta kondisi iklim telah memasuki musim kemarau maka diharapkan daerah mempertimbangkan penetapan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla 2017. Jangan sampai terlambat seperti tahun 2015," pungkasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya