Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IMAM Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menilai Idul Fitri bisa jadi momentum yang tepat untuk membersihkan diri dari terorisme dan radikalisme. Umat muslim sudah sepatutnya kembali pada Islam yang rahmatan lil alamin.
"Dengan Idul Fitri ini kita tingkatkan rasa cinta Tanah Air dan bangsa demi keutuhan NKRI," kata Nasaruddin dalam siaran persnya, Rabu (21/6). Ia menilai bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai ujian saat ini.
Sebab itu, bangsa Indonesia mestinya punya pertahanan kuat dalam menghadapi serangan-serangan dari luar, bukan malah saling menjatuhkan. Kondisi itulah, kata dia, yang mengharuskan semua elemen introspeksi. Koreksi mesti dimulai dari diri sendiri, keluarga, juga lingkungan.
Menurut Nasaruddin, guna mewujudkan Indonesia yang bersih dari radikalisme dan terorisme bisa dengan memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Ia optimistis bila dua unsur itu semakin mengakar kuat, maka Indonesia akan kokoh dari berbagai macam gangguan.
"Idul Fitri itu saling memaafkan dan menjalin silaturahim. Jadi, ini momentum untuk mengejawantahkan nilai dari Islam dan Pancasila itu sendiri," pesan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Nasaruddin menilai, Islam dan Pancasila kompatibel. Islam adalah ajaran universal, sedangkan Pancasila, adalah kearifan lokal. Islam, kata dia, tidak mengatur A-Z. Namun, Islam mengatur dasarnya, sedangkan aksesoris dan keindahannya diserahkan kepada kearifan lokal, yaitu Pancasila sebagai ideologi bangsa.
"Islam dan Pancasila seperti mata uang yang memiliki sisi yang berbeda, keduanya berfungsi. Apabila salah satu sisinya hilang maka uang tersebut tidak dapat dipergunakan. Jadi sisi tersebut bisa saling melengkapi dan menyempurnakan," ujar mantan Wakil Menteri Agama RI ini.
Salah satu hasil kerja sama Islam dan Pancasila, kata Nasaruddin, adalah toleransi. Toleransi menurutnya itu membutuhkan kelapangan dada dalam memahami perbedaan. Hal itu, harus dimulai dari individu masing-masing.
"Untuk membuat orang lain baik kita harus memulai dari diri kita dulu. Ibarat guru tidak akan bisa memintarkan anak didiknya apabila dirinya sendiri belum menjadi manusia yang pintar," kata Nasaruddin.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved