Depresi Mengintai Pengguna Media Sosial

Ire/E-1
04/3/2015 00:00
Depresi Mengintai Pengguna Media Sosial
(MI/SENO)
ANDA gemar mengakses media jejaring sosial, seperti Facebook, untuk sejenak beralih dari tekanan pekerjaan atau tugas?

Berhati-hatilah.

Alih-alih menghindari stres, Anda malah bisa terjangkit depresi.

Studi terbaru terhadap 736 mahasiswa menemukan pengguna Facebook rawan akan rasa iri yang berujung depresi.

Penelitian dilakukan tim peneliti di Nanyang Technological University, Bradley University, dan University of Missouri Columbia.

Profesor di University of Missouri School of Journalism, salah satu peneliti, Margaret Duffy, menyebut depresi bisa timbul bila Facebook digunakan untuk melihat seberapa baik seseorang dalam relasinya dengan keluarga, teman-teman, sampai kondisi keuangan yang mapan, seperti liburan mahal, rumah baru, atau mobil baru.

Risiko depresi semakin besar jika pengguna Facebook tersebut berperilaku seperti pengintai.

Penulis @CNNTech, Cara Reedy, dalam tulisannya yang berjudul Too Much Facebook Leads to Envy and Depression, mengaku mengalami fenomena candu yang mendekati depresi bagi pengintai Facebook.

Baginya, fenomena tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tetapi juga pada dirinya yang berusia paruh baya.

"Facebook ialah bagian besar dari hidup saya. Seperti kebanyakan pengguna, saya punya aplikasinya di ponsel. Saya bisa cek di rumah, tempat kerja, atau saat keluar," tutur Reedy dalam Money.cnn.com, kemarin.

Bahkan saat berada di stasiun kereta bawah tanah ia mengecek Facebook juga dengan fasilitas wi-fi.

Apa pun aktivitas terkini teman-teman sampai anak-anak mereka sudah menjadi candu bagi Reedy.

Rumah yang indah, makan malam yang mewah, sampai video liburan ke tempat-tempat eksotis jadi tontonannya sehari-hari.

Reedy pun menyimpulkan Facebook seperti majalah gaya hidup yang menampilkan kehidupan teman-temannya yang tidak jarang lebih baik daripada dirinya.

Kendati begitu, ada pula sisi positif jejaring sosial, seperti diakui Duffy.

"(Mengakses) Facebook bisa jadi kegiatan menyenangkan dan sehat jika pengguna memanfaatkan situs untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman lama, berbagi aspek menarik dan penting dari kehidupan mereka," lanjutnya dalam Munews.missouri.edu, kemarin.

Peneliti dari universitas yang sama dengan Duffy, Edson Tandoc, menambahkan, gejala depresi tidak terlihat pada orang-orang yang menggunakan jejaring sosial untuk sekadar tetap terhubung.

Senada dengan Duff, Tandoc berpendapat Facebook bisa menjadi sumber daya yang sangat positif, tapi jika digunakan untuk mengukur prestasi sendiri dan orang lain.

"Hal ini penting bagi pengguna untuk menyadari risiko pengintai sehingga mereka dapat menghindari perilaku itu saat menggunakan Facebook."

Melek jejaring sosial memang penting, terutama di era ketika teknologi informasi berkembang pesat seperti saat ini.

Namun, akan lebih baik kalau disertai dengan motivasi presentasi positif dari penggunanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya