Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI perfilman Indonesia kembali kedatangan karya horor yang segar melalui film The Bell: Panggilan untuk Mati. Film yang diproduksi oleh MBK Production bersama Sinemata ini tidak hanya sekadar menawarkan rasa takut, tetapi juga mengangkat legenda lokal atau urban legend dari Belitung.
Produser Eksekutif film The Bell: Panggilan untuk Mati, Budi Yulianto, mengungkapkan bahwa ide film ini berakar dari urban legend di Belitung, yang juga merupakan tanah kelahirannya. Setelah sebelumnya sukses dengan genre berbeda seperti romance dan drama, kali ini Budi ingin memberikan sesuatu yang berbeda bagi penonton Indonesia.
"Film ini diangkat dari urban legend Belitung. Kami hadir kembali dengan genre yang berbeda, perpaduan antara horor dengan romance. Sesuatu yang mungkin berbeda di dunia perfilman Indonesia," ujar Budi Yulianto dalam acara konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4).
Duduk di kursi sutradara, Jay Sukmo pun membawa pendekatan sinematografi yang berbeda dalam film ini, menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton.
Melalui film The Bell: Panggilan untuk Mati, sosok Penebok yang merupakan hantu dari Belitung diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar.
Aktor Mathias Muchus yang memerankan karakter Tuk Bahrun, menilai bahwa kehadiran Penebok dalam ini jadi upaya mengangkat kekuatan budaya lokal “Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami,” ujarnya.
Keunikan inilah yang menjadikan The Bell: Panggilan untuk Mati sebagai tontonan yang layak dinantikan. Di tengah banyaknya film horor dengan pola yang serupa, film ini menghadirkan pendekatan yang lebih segar dengan menggabungkan unsur budaya, teror, dan isu kontemporer.
Film The Bell: Panggilan untuk Mati bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok, entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun.
Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian, Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya. Adapun film ini dibintangi sederet aktor berpengalaman seperti Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi). (H-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved