Nostalgia dan Sindiran Tajam: Reaksi Pertama Penonton ‘The Devil Wears Prada 2’ di New York

Intan Safitri
23/4/2026 12:00
Nostalgia dan Sindiran Tajam: Reaksi Pertama Penonton ‘The Devil Wears Prada 2’ di New York
(Kiri ke kanan) Anne Hathaway, Stanley Tucci, Meryl Streep dan Emily Blunt menghadiri pemutaran perdana dunia film The Devil Wears Prada 2 di Lincoln Center, New York.(Vogue)

DUNIA mode dan sinema baru saja diguncang kembalinya sang ratu "Runway", Miranda Priestly. Setelah penantian selama dua dekade, sekuel The Devil Wears Prada akhirnya melakukan penayangan perdana di Lincoln Center, New York, pada 20 April 2026. Antusiasme yang meluap di karpet merah terjawab dengan ulasan-ulasan awal dari para kritikus dan penonton pertama yang menyebut film ini sebagai "surat cinta sekaligus tamparan bagi industri media modern."

Meryl Streep dan Anne Hathaway: Chemistry yang Tidak Memudar

Salah satu kekhawatiran terbesar dari sebuah sekuel yang berjarak 20 tahun adalah hilangnya koneksi antar karakter. Namun, laporan dari Variety menegaskan kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Meryl Streep kembali dengan tatapan dinginnya yang ikonik sebagai Miranda Priestly, sementara Anne Hathaway sebagai Andy Sachs tampil dengan transformasi karakter yang sangat matang.

Kritikus Jazz Tangcay menyebut naskah garapan Aline Brosh McKenna tetap memiliki taring yang tajam."Sekuel sempurna yang melampaui ekspektasi," ujar Jazz. Dialog-dialog dalam film ini dinilai tidak hanya sekadar mengulang kejayaan masa lalu, tetapi memberikan perspektif baru tentang bagaimana para karakter ini bertahan di tengah gempuran media digital yang serba cepat.

Satir Industri Media yang Menggigit

Bukan The Devil Wears Prada namanya jika tidak menghadirkan satir yang pedas. The Hollywood Reporter mencatat bahwa sekuel ini memberikan gambaran yang sangat akurat, bahkan cenderung menyakitkan bagi para praktisi media saat ini. Penonton disuguhkan realitas transisi media cetak ke platform digital yang penuh intrik.

"Setiap jurnalis yang menonton ini akan merasa tersindir. Penggambarannya terhadap industri media saat ini sangat menggigit dan tidak basa-basi," ungkap Alex Weprin dalam ulasannya. Film ini berhasil memotret bagaimana dominasi media sosial dan algoritma mengubah cara kerja majalah mode ternama sekelas Runway.

Visual Mewah dan Efek Lady Gaga

Aspek estetika tetap menjadi tulang punggung film ini. Desainer kostum Molly Rogers mendapatkan pujian luas karena berhasil menyajikan busana yang penuh pernyataan tanpa terlihat berlebihan. Setiap outfit yang muncul di layar diprediksi akan menjadi tren mode dalam beberapa bulan ke depan.

Selain visual, keterlibatan Lady Gaga dalam mengisi soundtrack melalui lagu berjudul "Runway" memberikan energi tambahan. Penonton di lokasi premier melaporkan bahwa musik dalam film ini sangat membantu membangun atmosfer yang dinamis dan modern, sangat cocok dengan gaya hidup New York yang bergerak cepat.

Keseimbangan Antara Nostalgia dan Inovasi

Meski banyak memberikan referensi atau callback ke film pertamanya, para penonton sepakat bahwa sekuel ini mampu berdiri sendiri. Maxwell Losgar dari Cosmopolitan mencatat meskipun karakter-karakternya sulit berubah, seperti sifat dingin Miranda, perkembangan plotnya memberikan kesegaran yang membuat film ini relevan bagi penonton generasi baru tanpa meninggalkan penggemar lama.

Dengan reaksi awal yang didominasi ulasan positif, The Devil Wears Prada 2 diprediksi akan menjadi box office global saat mulai ditayangkan secara umum pada 1 Mei 2026 mendatang. Bagi para pencinta film bertema desain mode, ini adalah tontonan wajib yang membuktikan legasi Miranda Priestly belum berakhir.  (Variety/The Hollywood Reporter/Cosmopolitan/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya