Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBANGUN sebuah dunia fiksi yang meyakinkan sering kali berakar dari memori masa kecil dan pengalaman personal yang sangat spesifik. Dalam film terbarunya yang berhasil menembus Sundance Film Festival, sutradara Wregas Bhanuteja tidak hanya mengandalkan imajinasi murni, tetapi juga menarik inspirasi dari kejadian nyata yang dialami keluarganya sendiri untuk menciptakan elemen perasuk yang menjadi pusat cerita.
Elemen mistis dalam film ini rupanya bukan sekadar bumbu horror spiritual biasa, melainkan sebuah bentuk perwujudan fantasi dari interaksi manusia dengan roh. Wregas mengungkapkan bahwa riset mengenai roh-roh binatang dalam filmnya banyak bersumber dari pengalaman pribadi adiknya yang memiliki kemampuan indra keenam sejak kecil.
"Jadi adik saya tuh punya indra ke-6. Jadi waktu saya SD kelas 1, adik saya TK. Dia bilang, dia bisa lihat kucing raksasa di atas rumah. Ekornya tiga, kukunya sepanjang pisau. Warnanya putih, matanya putih," ungkap Wregas mengenangkan memori tersebut.
Pengalaman sang adik yang bisa berinteraksi dengan berbagai wujud roh seperti roh kura-kura di sungai hingga kelalawar menjadi fondasi bagi karakter para perasuk. Wregas ingin menggeser perspektif masyarakat tentang roh yang selama ini identik dengan kengerian menjadi sesuatu yang bisa menjadi "teman" dan diajak bermain bersama.
Salah satu pilihan kreatif yang paling mencolok dalam film ini adalah kehadiran "roh kutu" di antara 20 roh binatang lainnya. Pilihan unik ini lahir dari memori Wregas saat menginap di sebuah vila bersama adiknya. Di sana, ia mengamati kutu yang melompat-lompat di atas kasur kapuk. Baginya, kutu bukan sekadar serangga kecil, melainkan simbol tentang perspektif kehidupan.
"Kecil atau besar itu masalah perspektif aja. Kalau dari sudut pandang kutu, lompatanmu segitu tuh udah tinggi sekali. Kalau kamu bayangkan kamu seukuran tubuh kutu, terus bisa lompat segitu, itu ibaratnya kayak kamu di sini lompat sampe ke lantai lima," jelas Wregas mengenai alasannya memasukkan unsur kutu ke dalam narasi filmnya.
Selain elemen personal, Wregas juga memasukkan unsur kreativitas yang segar dalam proses seleksi perasuk di desanya. Ia membayangkan sebuah tradisi desa yang dikelola dengan sistem penilaian modern layaknya kompetisi bakat pada umumnya.
Dalam dunia fiksi ini, menjadi perasuk terbaik membutuhkan proses yang terstruktur layaknya pemilihan gitaris atau stand-up comedian terbaik. Wregas menciptakan sistem scoring dan voting untuk menentukan siapa yang memiliki gaya perasukan paling “enak" atau estetis bagi penonton. Kombinasi antara memori masa kecil, kemampuan supranatural keluarga, dan imajinasi liar inilah yang akhirnya melahirkan semesta perasuk yang orisinal. (Intan Safitri/E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved