Emma Thompson hingga Ben Stiller Tolak Merger Paramount-Warner Bros senilai Rp1.700 Triliun

Thalatie K Yani
14/4/2026 10:12
Emma Thompson hingga Ben Stiller Tolak Merger Paramount-Warner Bros senilai Rp1.700 Triliun
Ilustrasi(Unsplash)

GELOMBANG penolakan besar-besaran datang dari para pekerja seni di Amerika Serikat terkait rencana merger raksasa antara studio film Paramount dan Warner Bros Discovery. Lebih dari 1.400 aktor, sutradara, dan pembuat film telah menandatangani surat terbuka yang menentang kesepakatan tersebut.

Nama-nama besar seperti Emma Thompson, Ben Stiller, Javier Bardem, Rose Byrne, hingga Kristen Stewart dan Glenn Close menyatakan "perlawanan mutlak" terhadap konsolidasi media ini. Mereka berpendapat kesepakatan senilai US$111 miliar (sekitar Rp1.780 triliun) tersebut akan merusak industri hiburan AS yang sudah babak belur.

"Transaksi ini akan semakin mengonsolidasikan lanskap media yang sudah terkonsentrasi, mengurangi persaingan di saat industri kami, dan penonton yang kami layani, paling tidak mampu menanggungnya," bunyi pernyataan dalam surat tersebut.

Ancaman Pengurangan Lapangan Kerja

Para sineas khawatir merger ini akan menyusutkan jumlah studio film besar di AS menjadi hanya empat. Hal ini dinilai akan mempersempit peluang bagi kreator, mengurangi lapangan kerja di ekosistem produksi, meningkatkan biaya, serta mengurangi pilihan bagi penonton global.

Damon Lindelof, kreator serial Watchmen dan Lost, turut menyuarakan kekhawatirannya melalui media sosial.

"Merger Hollywood berarti lebih sedikit film dan lebih sedikit acara TV, dan itu berarti lebih sedikit pekerjaan," tulis Lindelof. "Ketika dua studio bersejarah dimiliki oleh perusahaan yang sama, hasilnya mudah ditebak, salah satunya akan menjadi 'Kota Hantu'. Saya takut. Tapi saya bukan hantu. Dan sebuah pertempuran sudah kalah jika tidak pernah diperjuangkan."

Tanggapan Paramount Skydance

Menanggapi kritik tersebut, Paramount Skydance, perusahaan hasil merger antara Skydance milik David Ellison dan Paramount Studios pada 2025, menegaskan komitmennya terhadap bakat kreatif. Mereka berargumen bahwa industri saat ini membutuhkan perusahaan bermodal kuat yang mampu terus berinvestasi dalam penceritaan (storytelling).

"Sebagai kreator, kami tahu secara langsung bahwa ini juga merupakan momen di mana industri menghadapi gangguan signifikan, dan kebutuhan akan perusahaan kuat, mengutamakan kreativitas, serta bermodal baik untuk terus berinvestasi dalam penceritaan tidak pernah sebesar sekarang," tulis pihak Paramount Skydance dalam pernyataan resminya, Senin (13/4).

David Ellison berencana mempertahankan Paramount dan Warner Bros sebagai studio film yang berdiri sendiri dengan target merilis setidaknya 30 film layar lebar berkualitas tinggi setiap tahun. Studio tersebut juga mengeklaim bahwa merger ini justru akan memungkinkan mereka memberikan lampu hijau bagi lebih banyak proyek dan mendukung talenta di berbagai tahap karier mereka.

Menanti Persetujuan Regulasi

Kesepakatan akuisisi ini terjadi setelah Paramount Skydance mencapai kesepakatan pada akhir Februari, menyusul mundurnya Netflix dari persaingan. Warner Bros Discovery sendiri menaungi merek-merek ikonik seperti Harry Potter, Friends, HBO, hingga saluran berita CNN.

Kini, nasib merger raksasa ini berada di tangan pemegang saham yang akan melakukan pemungutan suara akhir bulan ini. Selain itu, kesepakatan ini membutuhkan persetujuan dari regulator pemerintah, termasuk desakan para sineas kepada Jaksa Agung California, Rob Bonta, untuk memblokir transaksi tersebut demi menjaga persaingan sehat. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya