Marcella Zalianty Soroti Polemik Judul Film Aku Harus Mati

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 16:22
Marcella Zalianty Soroti Polemik Judul Film Aku Harus Mati
Poster film Aku Harus Mati(Instagram @akuharusmati.)

KETUA Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI '56), Marcella Zalianty, memberikan tanggapan serius terkait polemik baliho film horor berjudul Aku Harus Mati, yang belakangan menuai kritik tajam dari masyarakat dan praktisi kesehatan. Marcella mengingatkan para pelaku industri kreatif untuk lebih berhati-hati dalam memilih diksi, baik untuk judul maupun materi promosi.

Menurut Marcella, setiap konsep kreatif yang dilempar ke ruang publik memiliki dampak yang luas. Dalam kasus film tersebut, penggunaan kalimat yang provokatif dinilai berisiko bagi individu dengan kerentanan psikologis tertentu.

"Setiap konsep kreatif pasti ada dampaknya, dan itu sebaiknya juga kita pikirkan. Pemilihan kata dalam komunikasi itu harus hati-hati, karena bisa berdampak secara psikologis, tidak hanya komersial," ujar Marcella di Jakarta, Senin (6/4).

Pembelajaran bagi Industri Kreatif

Marcella memandang polemik ini sebagai momentum berharga bagi para sineas dan tim pemasaran film di Indonesia untuk mengevaluasi strategi komunikasi mereka. Ia menekankan bahwa kreativitas tidak boleh mengabaikan tanggung jawab sosial.

Ia menyarankan agar pembuat film mempertimbangkan alternatif judul atau pendekatan promosi yang lebih aman tanpa harus menghentikan produksi karya tersebut. "Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bagaimana memilih diksi dan strategi komunikasi yang lebih baik," imbuhnya.

Poin Utama Saran & Catatan Marcella Zalianty
Pemilihan Diksi Harus mempertimbangkan dampak psikologis penonton, bukan sekadar nilai komersial.
Kebebasan Berekspresi Perlu diseimbangkan dengan kepekaan sosial dan tanggung jawab publik.
Mekanisme Konten Diperlukan peninjauan materi promosi untuk memastikan keamanan bagi publik.
Evaluasi Karya Kualitas film tidak bisa dinilai hanya dari judul sebelum menonton isinya secara utuh.

Keseimbangan Ekspresi dan Tanggung Jawab

Lebih lanjut, Marcella menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan etika di ruang publik. Meskipun sebuah karya seni memiliki kebebasan, namun kepekaan terhadap situasi sosial masyarakat tetap menjadi prioritas.

Ia juga mengingatkan publik agar tetap objektif. Menurutnya, sebuah film tidak bisa langsung dicap buruk hanya berdasarkan materi promosinya sebelum ditonton secara keseluruhan. Namun, ia sepakat bahwa sistem dan kebijakan terkait promosi film perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan kerugian di masa depan.

"Ini bisa menjadi evaluasi bersama dalam sistem dan kebijakan, supaya dampaknya tidak merugikan," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya