Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK sedikit pun terpikir dalam benak Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, 60, bahwa ia akan menekuni bisnis kopi. Kemarin, ia meluncurkan kopi berlabel Jenderal Kopi Nusantara Buwas di Gedung Bulog, Jakarta.
Bisnis kopi tersebut, kenang Buwas--panggilan Budi Waseso, berawal dari ketidaksengajaan. Ketika menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Buwas berkunjung ke Aceh. Ia mendapati banyak petani ganja di Gayo Luwes dan Bireuen. "Kalau ketemu bandar ganja, langsung saya tembak. Tapi, kalau petani, enggak mungkin saya perlakukan seperti bandar," ujarnya.
Dari perjalanan Buwas ke Kolombia sebelumnya, ia mempelajari cara mengubah petani ganja menjadi petani kopi. Ia pun mendorong petani di kawasan Gayo dan Bireuen untuk menanam kopi.
"Kita menggiatkan masyarakat petani di Aceh, khususnya di tempat ketinggian 1.200 (meter di atas permukaan laut) yang selama ini menanam ganja karena digalang oleh pemodal-pemodal dari jaringan narkotika," imbuhnya.
"Waktu petani panen kopi, mereka tanya mau diapakan biji kopi itu. Saya waktu itu tiga hari lagi mau pensiun. Saya jawab bahwa saya yang beli, saya tampung," kenangnya. Ia menegaskan tujuan utamanya bukanlah bisnis semata, melainkan juga meningkatkan taraf hidup dan ekonomi para petani yang ada di dataran tinggi Gayo, Aceh.
Sebagai konsekuensi atas kesanggupan menampung kopi, Buwas belajar seluk-beluk memproses kopi secara otodidak. "Saya baca, belajar sampai saya bisa menghasilkan kopi yang baik," ujarnya.
Lahirlah kopi Jenderal yang dipasarkan terlebih dahulu di Eropa.
"Kopi Jenderal sudah dipasarkan di tujuh negara Eropa. Di dalam negeri malah belum. Nah, sekarang kita luncurkan di dalam negeri," kata Buwas. Ia menambahkan, kopi Jenderal dipasarkan di dalam negeri dengan harga yang terjangkau agar bisa dinikmati semua kalangan masyarakat.
Bintang tiga
Penamaan merek kopi diambil dari jabatan Buwas sebagai jenderal karena Buwas merupakan purnawiran Polri dengan pangkat terakhir komisaris jenderal, perwira tinggi bintang tiga. "Jadi, di merek kopi ada tiga bintang. Selain karena saya jenderal polisi bintang tiga, Polri punya Tribrata," kata Buwas. Namun, jenderal bisa juga berarti general, umum. "Karena itu, kita memasarkan kopi dari seluruh Nusantara," ucap Buwas.
Kualitas kopi Nusantara, kata Buwas, sangat tinggi asalkan diolah secara benar. "Kopi Jenderal rata-rata grade-nya 88. Ada kopi dari Mamasa yang grade-nya sampai 90,6," terang pria lulusan Akademi Kepolisian 1984 itu.
Dalam peluncuran yang bertepatan dengan ulang tahun Buwas, kopi Jenderal menyediakan dua jenis kopi lokal, yakni kopi robusta temanggung dan kopi arabika gayo. Ke depannya, kopi Jenderal akan tersedia dengan jenis kopi flores bajawa, papua wamena, dan sumatra mandailing.
Tidak berhenti sampai di situ, Buwas juga menuturkan keinginan untuk membangun sekolah kopi. Tujuannya mendidik generasi muda Indonesia menjadi ahli di bidang kopi.
"Supaya mengolah kopi tidak sembarang karena punya nilai yang sangat luar biasa dan kalau kita mengolah kopi dengan baik, Indonesia akan terkenal dengan kopinya dari Sabang sampai Merauke. Kalau bisnisnya, itu mengikuti saja. Saya tak punya target harus di seluruh Indonesia," terang Buwas yang kini juga menjabat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Atas jasanya mengubah petani ganja menjadi petani kopi, Dewan Adat dan Pemkab Gato Luwes dan Birueen menganugerahinya gelar adat. "Malah di kedua kabupaten ada nama jalan pakai nama saya. Biasanya orang sudah meninggal yang namanya dipakai nama jalan," tutur Buwas. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved