Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Prisia Nasution, 35, tergerak untuk membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) setelah merasa prihatin menjumpai keberadaan mereka di jalanan di Bandung. Ia melihat orang tak waras berambut panjang dengan pakaian seadanya. Berniat membantu, Prisia mencari panti bagi orang tersebut. Namun, ia kesulitan menemukan panti yang dapat menampung orang gila tersebut.
Karena itu, di tengah kesibukannya bermain film, ia mendirikan Kopi Panas Foundation (KPF) yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, lingkungan, dan kepedulian kepada hewan. KPF juga menjadi wadah bagi milenial dan masyarakat umum untuk peduli orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
"Saya ingin mengajak kita semua mengubah stigma tentang ODGJ. Tidak perlu takut, jijik, atau bersikap galak pada mereka," terang Prisia dalam diskusi Jakarta Mental Health Convention yang digelar KPF dan Badan Kesehatan Jiwa Indonesia (Bakeswa Indonesia) di Jakarta, Sabtu (21/9).
KPF, ujar Prisia, rutin melakukan kunjungan ke sejumlah panti sosial untuk mengajak masyarakat mengenal lebih dekat ODGJ yang tidak seperti ditakutkan kebanyakan orang. Menurutnya, dengan mendatangi langsung, stigma akan terputus karena ODGJ juga orang yang butuh perhatian dan kepedulian sesama.
"Mereka yang kita datangi juga dapat tertawa dan bergembira bersama dan itu jadi terapi juga buat mereka untuk menambah semangat hidup," cetusnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prisia juga menghadirkan sosok ODGJ yang telah dibina dan sembuh. Dia juga meminta perhatian pemerintah untuk meningkatkan perhatian terhadap Undang Undang Kesehatan Jiwa dengan menerbitkan aturan turunannya seperti peraturan pemerintah. Ia juga mengharap tersedia anggaran yang memadai sehingga pembinaan ODGJ lebih fokus dan bisa lebih meningkat.
Legalitas yayasan
Nama Kopi Panas Foundation tergolong unik. Menurut Prisia, ia memilih nama tersebut karena tidak ingin nama yayasan yang terlalu serius. Nama tersebut, ujarnya, lahir dari obrolan-obrolan santai membahas berbagai masalah sosial.
Yayasan itu baru terbentuk secara legal pada 2018 meski inisiasi telah dilakukan sejak tujuh tahun sebelumnya. Prisia menjelaskan, KPF terhubung dengan yayasan-yayasan yang menangani masalah-masalah sosial. Meksipun yayasan tersebut belum diisi ahli, Prisia menggandeng mereka agar kegiatan yang dilaksanakan lebih optimal.
"Kita berusaha agar masyarakat Indonesia paham tentang kegiatan KPF. Membantu tidak harus dengan melakukan hal-hal yang berat," ujarnya.
Salah satu kegiatan ialah ketika KPF menggandeng Yayasan Mentari Hati, Tasikmalaya. Beragam program dijalankan, salah satunya mendistribusikan bantuan berupa obat-obatan, sembako, dan pakaian layak pakai untuk kebutuhan pasien ODGJ yang tinggal di yayasan tersebut.
KPF juga mengajak ODGJ untuk mengikuti perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Yayasan itu juga terpilih untuk mendapatkan bantuan agar memperoleh hunian yang lebih nyaman. Sebelumnya, Yayasan Mentari Hati menempati bangunan bekas terminal bus di Tasikmalaya.
Untuk menghimpun donasi, KPF menjual merchandise berupa tote bag dan kaus yang berkolaborasi dengan Tees. Keuntungan yang didapat dari hasil penjualan merchandise disalurkan kepada para penderita gangguan jiwa yang telantar atau membutuhkan. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved