Julie Laiskodat Menjaga Tenun NTT

Sri Utami
13/4/2019 04:00
 Julie Laiskodat Menjaga Tenun NTT
Julie Laiskodat(DOK. DARITA NTT )

SEJAK lama istri Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Julie Laiskodat, tertarik pada seni dan kain tenun NTT. Menurutnya, kegigihan perempuan NTT mempertahankan nilai dan budaya tanah adatnya melalui selembar wastra yang ditenun dengan penuh penghayatan dinilai Julie sebagai warisan penting yang tidak ternilai harganya.

"Dalam selembar kain tenun, kita bisa mendapatkan berbagai cerita tentang tempat kain tenun itu berasal, dari alamnya, masyarakatnya, hingga kulinernya," ujarnya saat menghadiri soft launching Festival Literasi Nagekeo di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (11/4).

Julie yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT itu menuturkan, kain tenun NTT memiliki nilai dan filosofi yang berbeda di setiap desa. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari motif dan warna kain tenun.

"Setiap desa punya kain tenun yang berbeda-beda filosofinya juga motifnya. Seperti di Kabupaten Nagekeo, kainnya berwarna hitam dan kuning keemasan serta mempunyai tiga motif," terangnya.

Semangatnya untuk mengenalkan tenun NTT tidak sebatas pada jual dan beli, tetapi juga menginginkan aktivitas turun-temurun itu bisa menjadi perkerjaan utama yang menompang perekonomian masyarakat NTT.

"Tenun menjadi budaya di seluruh NTT. Dalam suka dan duka, wajib ada tenun. Selama ini tenun masih dianggap hanya pekerjaan sambilan, padahal potensi tenun sangat besar," cetusnya.

Perempuan yang saat ini aktif mengampanyekan literasi membaca buku itu juga menuturkan, nilai dan filosofi yang kental dari tenun NTT tidak boleh hilang atau diubah. Oleh karena itu, ia sangat ketat dalam memantau proses penenunan yang dilakukan masyarakat NTT.

Julie antara lain melarang pemerintah daerah (pemda) mengubah motif tenun sebab di balik motif tenun memiliki arti. Karena itu, ia selalu memastikan setiap motif tenun dibuat dengan benar. Jika motif tenun keliru, katanya, tidak akan memiliki arti.

Proses paten

Melestarikan kain tenun NTT, lanjut pemilik butik tenun NTT Levico itu, bukan tanpa hambatan. Di tengah upayanya itu, ia menghadapi penjiplakan tenun dalam bentuk printing dan klaim atas tenun tersebut dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Julie, munculnya kain printing dengan motif tenun NTT akan mematikan mata pencarian masyarakat penenun. Itulah sebabnya ia tengah berupaya memproses hak paten tenun NTT agar tidak ada lagi pihak yang menjiplak sehingga keutuhan budaya NTT dapat terjaga.

Saat ini pemerintah daerah terus mengembangkan tenun. Namun, Julie telah lebih dulu bermitra dengan sekitar 25 kelompok penenun untuk mengembangkan dan membuat tenun NTT sebagai warisan budaya yang tidak lekang dimakan waktu.

Atas semangatnya mengenalkan dan mengembangkan tenun NTT, pada kesempatan itu Julie pun diganjar dengan piagam penghargaan Tokoh Pelopor Literasi Tenun Ikat Nagekeo NTT yang diserahkan Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya