Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUSER film Mira Lesmana, 54, didapuk menjadi Sahabat Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019, yang bakal digelar di beberapa kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Ia pun begitu senang menjadi bagian dari festival tersebut karena diharapkan dapat menjadi ajang bertukar pikiran dan menambah ilmu.
Apalagi, Australia punya peran dalam membentuk kecintaan Mira terhadap film. "Saya besar di Sydney, Australia, fase penting dalam hidup. Masa-masa itu membuka mata saya, termasuk bagaimana akhirnya memutuskan terjun ke dunia film," katanya di tengah konferensi pers FSAI 2019, Jumat (8/3).
Di negeri itu, putri pasangan tokoh jazz Indonesia Jack Lesmana dan penyanyi senior 1960-an Nien Lesmana tersebut mendapatkan akses untuk menonton film-film Australia dan belahan dunia lainnya. Dari situlah ia menyadari pentingnya memahami keberagaman dan mengenal orang lain melalui film.
"Saya suka film dari semua negara karena pasti berbeda-beda," kata perempuan yang selalu ingin tahu ragam film dari penjuru dunia demi memperkaya wawasan.
Menurut perempuan kelahiran 8 Agustus 1964 itu, perfilman Australia memiliki sistem yang baik, terutama dalam pembuatan skenario. Pascaproduksi di Australia akhir-akhir ini juga digunakan seluruh dunia. Ia menyebut film Aquaman sebagai film yang pascaproduksinya digarap di ‘Negeri Kanguru’.
Bekerja sama dengan Australia dalam festival film tahunan ini, ujarnya, penting bagi Indonesia. Apalagi, lokasi dua negara saling berdekatan. Melalui film, lanjutnya, bisa mengeratkan hubungan budaya dua negara, terlepas dari seperti apa hubungan politik antara Indonesia-Australia. "Menurut saya, memahami melalui film ialah jalan terbaik," imbuh dia.
FSAI 2019 berlangsung di Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Mataram, pada 14 hingga 31 Maret 2019. Ajang tersebut juga bisa menjadi alternatif menyenangkan untuk lebih mengenal negara tetangga itu.
Sederet film pilihan dari Australia dan Indonesia akan ditayangkan secara cuma-cuma di festival ini. Ladies in Black jadi film pembuka festival. Film yang berlatar belakang 1959 ini menceritakan awal mula perubahan Australia menjadi negara multikultural, juga kebangkitan kemerdekaan perempuan di masyarakat.
Ada juga Gurrumul, film dokumenter mengenai salah satu seniman penduduk asli Australia yang paling terkenal. Festival film ini juga menghadirkan sutradara dan penulis film dokumenter Gurrumul, Paul Damien Williams yang akan menyapa penonton di Jakarta dan Mataram.
Sementara itu, film Indonesia yang bakal ditayangkan, antara lain film remaja fenomenal Ada Apa dengan Cinta. Selain film karya Mira, penonton juga dapat menyaksikan film pemenang penghargaan karya Kamila Andini, The Seen and Unseen atau Sekala Niskala.
Penulis skenario
Menurut Mira, industri film Indonesia semakin menjanjikan karena pertumbuhannya yang terus menguat serta jumlah penonton yang semakin konsisten. Investor pun semakin tergiur untuk membiayai film-film Indonesia.
Beberapa film Tanah Air, bahkan ditonton hingga 7 juta orang, antara lain film Ada Apa dengan Cinta 2 pada 2016, My Stupid Boss, dan film yang diperankan grup Warkop.
Namun, ujarnya, ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan para pegiat film Indonesia agar keberhasilan itu bisa bertahan lama, yakni perlunya sumber daya manusia (SDM) perfilman yang kompeten dan berkualitas. "Dulu bikin film susah cari dana. Sekarang cari dana mudah, tapi cari orang yang kompeten lebih sulit," tuturnya.
Salah satu yang menjadi perhatian istri aktor Mathias Muchus itu ialah soal penulisan skenario. Padahal, skenario merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas film.
Menurutnya, Indonesia bukan tidak memiliki sumber daya manusia yang berbakat. Namun, belum banyak tempat yang dapat menumbuhkan benih-benih bakat penulis skenario Tanah Air.
Oleh karena itu, ia menyambut baik lokakarya yang jadi salah satu bagian dari Festival Sinema Australia-Indonesia 2019. Melalui lokakarya itu sineas antarnegara bisa saling bertukar ilmu.
"Jika sudah banyak belajar, pasti kualitas film meningkat. Jika jumlah penonton berkembang tapi kualitas tidak berkembang, responsnya bisa turun karena penonton semakin cerdas," tuturnya. (Ant/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved