Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Maudy Koesnaedi, 43, kembali ke dunia layar lebar lewat perannya di film Ave Maryam garapan sutradara Robby Ertanto. Maudy mengaku mendapatkan kepuasan berbeda di filmnya kali ini lewat perannya sebagai seorang biarawati bernama Maryam.
Sebagai seorang muslim, Maudy mengaku memerankan sosok biarawati tidak mudah. Terlebih, dengan waktu syuting yang terbilang singkat, hanya 9 hari saja. "Tidak mudah jadi biarawati karena beda agama. Saya tidak pernah memerankan itu, karakternya berat, adegannya juga berat. Banyak sekali pemikiran-pemikiran yang akhirnya saya deal untuk terima dan bergabung di sini," ungkap Maudy saat mengunjungi Media Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Untuk mendalami karakter Maryam, Maudy melakukan observasi dengan mendatangi tempat tinggal para biarawati di Gedangan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Perempuan berdarah Sunda itu mengaku semangat mendalami perannya sebagai Maryam karena dianggap sangat menantang. Baginya, film itu menjadi titik baliknya untuk kembali ke dunia layar lebar.
"Saya termasuk yang agak sudah lama balik ke dunia layar lebar. Kangen sekali untuk bisa akting yang serius dan all out karena selama ini yang ada hanya peran-peran yang terbatas," ungkap istri Frederik Johannes Meijer itu.
Berperan sebagai Suster Maryam, Maudy menjalani rutinitas mengurus para biarawati tua di sebuah kesusteran. Konflik muncul saat Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang ke sana.
Keahlian Romo Yosef dalam bermain musik membuat Suster Maryam jatuh hati kepadanya. Begitu juga dengan Romo Yosef yang menaruh perhatian kepada Suster Maryam dan kerap pergi berdua.
Hubungan cinta antara Romo Yosef dan Suster Maryam jelas sangat terlarang untuk seorang pastor dan biarawati sebab mereka telah terikat dengan kaul atau janji yang telah diucapkan kepada Tuhan, salah satunya ialah dengan tidak menikah.
Ave Maryam ialah film cinta, tapi bukan percintaan biasa. Sang sutradara meletakkan fokusnya pada pergolakan batin seorang suster yang penting untuk diketahui dalam kehidupan sehari-hari mereka, antara menaati janji atau mengikuti hasrat hati.
Film itu diagendakan tayang di Indonesia pada April 2019. Sebelumnya, film itu telah lebih dulu diputar di Cape Town Film Festival 2018, Hanoi Film Festival 2018, Hong Kong Asian Film Festival 2018, dan Jogja-NETPAC 2018.
Lepas rindu
Selain berakting di depan kamera, Muady juga gembira karena bisa kembali merasakan atmosfer kesibukan di lokasi syuting yang dirindukannya selama ini. "Kerja bareng dengan sistem syuting yang serius karena ada observasi, ngobrol, tukar pikiran. Buat saya suatu proses yang memenuhi kebutuhan jiwa saya," ucap ibu dari Eddy Maliq Meijer itu.
Pemeran Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan itu pun berharap pesan yang disampaikan dalam film Ave Maryam bisa diterima masyarakat Indonesia.
Ia menegaskan, film tersebut bukan menceritakan mengenai agama seperti isu-isu kontroversial yang beredar, melainkan kisah tentang hubungan percintaan antarmanusia.
"Kita berkarya bukan mencari keributan, film itu bisa dari sudut yang berbicara tentang cinta yang lain bukan hanya percintaan remaja.
Cinta yang sebenarnya itu seperti ini bagaimana menghargai titik kesulitan, bagaimana mencintai Tuhan dan mencintai manusia sebagai kebutuhan yang menurut saya itu universal dan terjadi bukan mengada-ada. Berharapnya bisa dilihat dan diterima secara terbuka," pungkasnya. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved