Pelajaran Berharga di Seni Peran

Fathurrozak
17/2/2019 03:45
Pelajaran Berharga di Seni Peran
(MI/Fathurrozak)

UCAPAN bijak mengatakan bahwa hidup ialah belajar. Hal itu karena sepanjang hidup manusia selalu memperoleh pelajaran. Demikian pula Raihaanun, 30, yang mendapat banyak pelajaran dari profesi yang ditekuninya sebagai aktris.

Salah satu pelajaran berharga yang ia peroleh ialah saat memerankan korban pemerkosaan bergilir dalam film berjudul 27 Steps of May. Perempuan bernama May itu tidak pernah berkomunikasi dengan dunia luar karena trauma atas penderitaan yang menimpanya. Lukanya baru sembuh ketika ia bertemu dengan seorang pesulap.

Menurut Raihaanun, akting dalam film itu terbilang sulit karena ia tidak berdialog.

"Karena akting tanpa dialog, saya tidak punya media untuk mengutarakan. Akhirnya, detail-detail seperti mimik harus saya sampaikan dengan baik. Itulah yang paling sulit. Apalagi isunya sensitif, tentang korban pemerkosaan," ungkap perempuan bernama lengkap Siti Hafar Raihaanun Nabila, di Jakarta, Kamis (14/2).

Dalam observasinya, ia pun banyak berdiskusi dengan sutradara Ravi Bharwani dan penulis skenario Rayya Makarim. Keduanya membantu Rai, sapaan akrab Raihaanun, untuk menemukan karakter May yang diinginkan. Ia menggali karakter May yang mengalami trauma hingga gejala obsessive compulsive disorder (OCD) dan kaku terhadap dunia luar. Salah satu adegan yang menguras kemampuannya, antara lain ketika May menceritakan dirinya diperkosa.

"Bahwa jadi aktris harus siap dengan karakter apa pun. (Akting sebagai May) ini bukan bisu. Bisa bicara, tetapi memilih tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak semuanya melalui kata, tetapi lewat rasa," ujarnya.

Menurutnya, rasa sangat penting, kendati peran menuntut dialog dengan kata-kata. Tanpa rasa, pesan tidak akan sampai kepada penonton. Untuk bisa memperoleh itu, salah satunya ialah melalui pendekatan karakter, yakni mengetahui siapa karakter yang diperankan bahkan masuk perasaan karakter tersebut.

Hal itu karena begitu mendalam perannya sebagai May, Rai mengaku sulit melepaskan karakter tersebut. Seusai berperan di 27 Steps of May, ia butuh waktu tiga hingga lima bulan untuk kembali ke titik asli dirinya.

Menurutnya, suami dan anak-anaknya berperan mengembalikannya. Oleh karena itu, ia juga bersyukur karena sang suami memahami dunia Rai sebagai pekerja seni peran, yang terkadang lekat dengan karakter yang diperankan.

Tidak sendiri
Di balik perannya di film tersebut, istri Teddy Soeriaatmadja itu berharap masyarakat dan pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kasus-kasus kekerasan seksual. Ia juga meminta agar isu kekerasan seksual tidak dianggap remeh, bahkan mendesak pemerintah agar melakukan upaya lebih mendalam menangani dari kasus-kasus yang belum terselesaikan.

Peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2016 kategori pemeran pendukung wanita terbaik itu pun berpesan agar para penyintas dan korban tidak merasa sendiri.

"Jangan pernah merasa sendiri. Ada media untuk mengeluarkan apa yang dirasakan. Memang pesulap dalam film saya merupakan metafora karena yang bisa menyembuhkan mungkin hanya keajaiban. Namun, jangan pernah merasa sendiri, jangan merasa tidak punya teman, dan merasa hidup sudah berakhir," tuturnya. (H-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya