Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EVEN tahunan electronic dance music (EDM) terbesar di Indonesia, Djakarta Werehouse Project (DWP) merevolusi dirinya tahun ini.
Setidaknya, ada tiga perubahan fundamental dari penyelenggaraan DWPX - 10th Anniversary Edition of Djakarta Warehouse Project.
Pertama, walau masih berlebel 'Djakarta', tapi even yang dipromotori Ismaya ini digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali.

Kedua, even yang selama sembilan tahun digelar dua hari, tahun ini diperbanyak menjadi tiga hari, dari Jumat (7/12) hingga Minggu (9/12).
Ketiga, pesta EDM yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu, pada tahun ini menampilkan konser penyanyi RnB The Weekend yang bermain dengan full band. Ini pertama kali ada band yang main di DWP.
Revolusi ini, menurut keterangan resmi dari pihak Ismaya, dilakukan karena mereka ingin melakukan hal yang istimewa dan berbeda dalam penyelenggaraan yang ke 10. Namun di balik itu, menurut informasi yang dikumpulkan, ada pemberontakan di sana. Penyelenggara merasa tidak nyaman menggelar acara ini di Ibu Kota. Ketidaknyamanan penyelenggara itu sudah dirasakan sejak penyelenggaraan DWP 2017. Ketika even itu usai, penyelenggara berniat memindahkan DWP di luar Jakarta. Bahkan mereka sempat berpikir menyelenggarakan DWP di Singapura.

Pesta EDM selalu diidentikan dengan hura-hura, minuman alkohol, narkoba, dan pakaian minim. Hal ini selalu memancing aksi unjuk rasa dari beberapa ormas di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun menerapkan pajak yang besar jika even tahun ini digelar di DKI. "Harusnya pemerintah daerah beri dukungan maksimal kalau ada kegiatan industri kreatif seperti ini. Apalagi pemerintah ibu kota, itu kan barometer nasional. Mudah-mudahan RUU yang mengatur industri kreatif bisa cepet disahkan. Di sana mengatur soal yang seperti ini," kata anggota Komisi X DPR RI, yang juga penyanyi, Anang Hermansyah di lokasi DWPX, Minggu (9/12).
Meriah
Apapun cerita di balik penyelenggaraan, DWPX berlangsung sangat meriah. Memang pengunjung yang datang tidak sebanyak penyelenggaraan di Jakarta yang bisa mencapai 45 ribu orang per hari. Area GWK hanya mampu menampung setengah venue di Jakarta.
Brand Manager Ismaya Live Sarah Deshita mengatakan dari pantauan tiket masuk, jumlah pengunjung setiap hari mencapai 25 ribu.
Meski pertama kali diadakan di Bali, antusiasme penonton sejak hari pertama begitu besar. Antrean kendaraan mengular di sepanjang jalan menuju venue acara. Muda-mudi berdesakan di setiap area panggung, menari dan menikmati musik yang berdentum kencang.
Jika berlangsung di Jakarta, komposisi pengunjungnya 70% lokal, 30% wisatawan asing. Tapi di Bali, jumlah wisatawan asingnya lebih dominan. Mereka pun banyak yang membawa bendera negaranya masing-masing. Seorang pengunjung, Kim, dari Korea, mengaku tak terpengaruh dengan lokasi acara. Dia adalah penonton langganan DWP sejak lama. "Saya suka lokasi sekarang ini di Bali," kata dia.
"Di sini pasti ada yang hitam, putih, kuning, atau warna kulit lainnya. Ada juga yang muslim, Kristen, Budha, atau Hindu. Tapi di sini kita berkumpul untuk merayakan kita sebagai manusia," kata DJ Showtex yang tampil di Panggung Garuda pada hari kedua.

Showtex hanya satu dari puluhan DJ internasional yang bermain. Nama-nama tenar lain yang bermain adalah DJ Snake, Front Liner, Diplo, Afrojack, Armin Van Buuren, dan Major Lazer. Sementara dari peformer lokal ada KimoKal Dipha Barus yang membuktikan DJ Indonesia pantas dapat sorotan.
Suasana GWK yang merupakan gunung batu yang dibelah-belah membuat suasana DWPX lebih terkesan alami. Bukan hanya pemandangan yang indah, tebing-tebing batu itu ternyata membuat sebuah ruang akustik yang sempurna. Musik yang digeber kencang pun seakan lembut di telinga. Pengnjung pun seperti tidak pernah kehabisan tenaga karena banyak stand makanan dan minuman yang siap menambah enerji pengunjung. Tenda-tenda medik pun terdapat dibeberapa titik untuk membantu peserta yang terkulai lemas kelelahan.
The Weeknd menutup DWPX dengan membawakan lagu-lagu hits dari Starboy, Can't Feel My Face, hingga Pray For Me yang jadi soundtrack Black Panther.
Munculnya sebuah band RnB memang terasa ganjil di tengah festival musik EDM. Tapi banyak pengunjung yang puas dengan revolusi ini. "Menurut saya sih tahun ini keren abis. Apalagi yang tutup The Weekend," kata Ferdi, pengunjung asal Jakarta.
Ekonomi lokal bergerak
Efek langsung yang dirasa oleh warga di sekitar kawasan GWK dari penyelenggaraan DWP adalah bergeraknya perekonomian.
"Saya belum pernah melihat GWK seramai ini. Sudah beberapa kali sih tempat ini dijadikan lokasi konser atau festival musik, tapi tidak sebanyak ini pengunjungnya," kata I Made Konca, warga sekitar yang mengambil momen itu untuk menjadi tukang ojek dadakan.
"Lumayan lah dapatnya walau banyak sekali pesaingnya," lanjut Konca yang memasang tarif Rp10 ribu per kilometer untuk mengangkut pengunjung DWPX.
Director 0f Sales & Marketing Hotel Ungasan Cut Rossi pun tidak menyangka hotel yang dikelolanya penuh. "Padahal sekarang lagi low seassion," katanya.

Hotel Ungasan adalah hoitel yang paling dekat dari kawasan GWK. "Bila tahun depan diadakan lagi, kami akan lebih siap. Mungkin kami akan menggelar acara yang menunjang DWP," lanjutnya.
Anggota DPRD Bali Nyoman Parta menyambut baik penyelenggaraan DWP di Bali. "Even ini sangat membantu pariwisata Bali, apa lagi kalau diselenggarakan saat low seassion. Bukan hanya memberi pemasukan dari pajak, tapi even ini bisa menarik tenaga lokal untuk bekerja. Kami harap even ini tetap digelar di Bali," tutupnya. (A-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved