Nadya Hutagalung Gajah Mencuri Hatinya

Suryani Wandari Putri Pertiwi
13/12/2018 01:45
Nadya Hutagalung Gajah Mencuri Hatinya
( MI/PANCA SYURKANI)

SOSOK yang peduli satwa ialah sisi lain seorang Nadya Hutagalung, 44, yang bisa diketahui dalam buku Walk with Me. Buku setebal 348 halaman itu merangkum perjalanan kariernya selama tiga dekade.

"Buku ini punya mimpi dan harapan saya menggugah para pembaca sayang pada lingkungan khususnya konservasi satwa," kata Nadya, saat ditemui di Jakarta, Jumat (7/12).

Di dalam buku itu, ia menyematkan sejumlah foto dua satwa khas Indonesia yang terancam punah, yakni orang utan dan gajah.

Dua satwa itu selalu memiliki tempat khusus di hati Nadya. Dia yang kini aktif mengampanyekan konservasi satwa itu tak henti-hentinya mencoba meningkatkan kesadaran publik akan kelangsungan hidup para satwa di berbagai konferensi dunia.

Sejak kecil, Nadya memang sudah akrab dengan binatang. Bahkan, di usia belia itu, Nadya sudah bertekad ingin menyelamatkan semua jenis binatang dan membawanya pulang untuk dijaga.

"Nah, di usia 20-an saya tertarik dengan orang utan. Kemudian, gajah juga mencuri hatiku," kata ibu tiga anak itu.

Menurutnya, gajah punya peranan penting bagi hidup manusia dan paru-paru dunia. Itulah yang juga membuat dia sering mengunjungi daerah-daerah yang terdapat gajah.

"Ia memakan biji-biji tumbuhan yang besar. Kotoran dari tumbuhan ini akan tumbuh jadi pohon besar. Kalau gajah mati, hutan kita mati dan sebaliknya," katanya.

Beberapa waktu lalu, bahkan ia mendapatkan kejutan dari seorang anak disabilitas bernama Ivan yang memberikannya lukisan dan syal bergambar gajah yang berwarna-warni. Nadya mengaku amat menyukainya, apalagi digambarkan sosok dirinya bersama gajah-gajah ini.

"Saya tidak ingat dia berasal dari mana, tapi yang jelas saya ingin bertemu dia, suatu hari mungkin," kata Nadya.

Kecintaan Nadya pada gajah ditunjukkannya dengan menyutradarai film dokumenter Save Our Forest Giants yang menyoroti isu-isu eksploitasi gading gajah, pada 2014.

Belajar berempati
Dari perjalanan hidup yang telah dialaminya, Nadya menganggap, setiap orang memiliki kisah dan jalan masing-masing. Tidak ada kisah yang lebih penting di antara satu dengan lainnya.

"Yang saya tahu, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain dan belajar berempati meskipun pengalaman tersebut jauh dari kehidupan dan latar belakang kita," ungkap perempuan yang memulai karier modelnya saat berusia 12 tahun di Tokyo, Jepang, itu.

Tidak hanya kata-kata, tapi juga di dalamnya ada karya visual dari fotografer Davy Linggar, yang memperlihatkan sejumlah tempat yang pernah disinggahi Nadya. Mulai Jakarta, Ubud, Singapura, Medan, Nepal, hingga Kenya.

Di bukunya itu pun pembaca dapat melihat sekilas hubungan Nadya dengan suami, anak, dan orangtuanya. Nadya mendapat dukungan penuh dari tante dan manajernya, Ester Sitompoel, yang sangat apik menjaga kehidupan pribadinya agar tetap privat bahkan jauh dari terpaan gosip. (H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya