Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TANPA terasa sudah dua dekade, aktris Dian Sastrowardoyo, 36, bergelut di industri perfilman Indonesia. Dengan pengalaman yang diperolehnya itu, Dian pun memutuskan untuk memulai debutnya sebagai produser.
Menurutnya, keinginan itu sudah terpendam lama hingga akhirnya ia pun mendapatkan momentumnya. Ia mengatakan, tak hanya ingin berkarya di depan kamera.
"Saya melihat ini adalah waktu yang tepat untuk berkarya sebagai produser. Saya ingin memadukan background finance, entrepreneurship, dan sisi kreatif saya untuk memberikan sumbangsih dalam industri film," ujar perempuan kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982 itu di Jakarta, Selasa (27/11).
Awalnya, Dian melamar pekerjaan untuk posisi asisten produser Shanty Harmayn. Namun, Shanty mengajak Dian untuk berkolaborasi langsung dalam tiga proyek film terbaru.
Dalam debutnya nanti, Dian berkolaborasi dengan Base Entertainment untuk membuat tiga proyek film layar lebar selama tiga tahun ke depan. Film pertama yang akan diproduksinya ialah Guru-Guru Gokil yang bergenre komedi. Produksi film akan dimulai pada 2019.
Di film ini Dian juga terlibat dalam proses penggodokan ide cerita sampai pemilihan pemain."Ini adalah sebuah perspektif baru bagi saya."
Ibu dua anak ini juga mengungkapkan banyak hal yang dipelajarinya setelah menjadi produser. Menurutnya, ini sangat penting untuk perkembangan industri film ke depannya.
"Saya mengambil peran yang lebih besar daripada jadi aktor. Dengan
kontribusi sebagai produser kita jadi punya proses kreatif yang lebih
bebas. Di sini saya harus bisa bikin resepnya dan ternyata jauh lebih
susah," jelas Dian.
Misalnya, saat dirinya ikut terlibat membuat skrip cerita. Meskipun dibuat pusing, Dian mengaku tidak kapok. Ia bahkan menganggap itu sebuah tantangan baru.
Agar dapat berkonsentrasi penuh, Dian akan melepas atributnya sebagai pekerja film. "Tugas saya baca buku, nonton film jadi tidak bisa disambi dengan main film," kata lulusan filsafat UI itu.
Terinspirasi K-Drama
Salah satu kiblat film yang dinilainya inspiratif ialah industri perfilman Korea Selatan yang mampu menciptakan banyak genre drama dengan cerita cinta yang beragam.
"Mereka mungkin genrenya juga sama-sama saja, genre cinta, genre horor, cuma meski genre cinta mereka lebih banyak lebih rajin mengulik sehingga cerita cinta diceritakan dengan cara berbeda-beda dan menjadi sangat beragam."
Dian memulai kariernya di dunia hiburan pada 1996, sebagai juara pertama ajang Gadis Sampul majalah remaja. Dalam film indie berjudul Bintang Jatuh (2000) karya Rudi Soedjarwo, nama Dian mulai berkibar.
Film keduanya Ada Apa dengan Cinta (2000) bahkan disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan film nasional. Di film itu ia beradu akting dengan aktor Nicholas Saputra. Popularitas Dian berlanjut pada film Pasir Berbisik (2001) yang mempertemukannya dengan aktris senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo, dan Didi Petet.
Lewat Pasir Berbisik itu Dian dianugerahi pemeran wanita terbaik pada Festival Film Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Prancis (2002).
Selama vakum dari industri hiburan, Dian menjalani kesibukan baru mulai dari pekerjaan kantoran dan mengurus rumah tangga. Ia kemudian kembali dan belajar hal baru tentang dunia belakang layar.
Film terakhir yang dibintanginya sebelum vakum dari dunia hiburan ialah Drupadi (2008). Di film itu ia turut menjadi produser bersama Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan.
Pada 2010, Dian menikah dengan Maulana Indraguna Sutowo. Pada 2014, ia muncul dalam film pendek Ada Apa dengan Cinta dan telah merampungkan kuliah S-2 Manajemen Keuangan di UI dan lulus dengan predikat cum laude. (Medcom/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved