Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI ibu dari dua anak perempuan, aktris, produser, dan pengusaha Wulan Guritno, 38, mengaku khawatir dengan tingginya angka kekerasan terhadap anak dan perempuan belakangan ini. Kekhawatiran itu mengingatkannya pada masa lalunya.
Perempuan berdarah campuran Jawa-Inggris itu mengaku pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada pernikahan pertamanya yang kandas pada 2000. Sebagai korban, tidak mudah bagi dirinya untuk mengungkapkan yang terjadi.
Perempuan kelahiran Inggris, 14 April 1980 itu menyadari, korban-korban kekerasan seksual memang tidak mau mengungkapkan yang dialami karena hal yang sama, seperti malu, lingkungan yang tidak mendukung, atau karena hal politis.
Kepada setiap orang yang bertanya saat itu, Wulan mengaku, lebam-lebam di tubuhnya karena jatuh dari kuda, adegan perkelahian, dan cerita karangan yang lain. "Waktu itu aku tidak berani bersuara karena bingung," ujar Duta Kanker Serviks itu saat ditemui di Jakarta, pekan lalu.
Atas dasar itulah, aktris terfavorit di Indonesian Movie Awards 2011 tersebut memilih jadi salah satu relawan Enam Belas Film Festival (16 FF) untuk mengampanyekan antikekerasan berbasis gender dan seksual. Wulanpun senang bisa ikut bergabung. Bahkan, mengajak putri sulungnya yang sedang sekolah di London, Inggris, ikut menjadi relawan.
"Orangtua sudah merasa memberi bekal kepada anak perempuan sedemikian rupa. Tapi, kita tidak pernah tahu di luar sana ada apa (pelaku kekerasan) atau mungkin dari dalam diri mereka sendiri (rentan jadi korban, tapi tak mau bersuara)," kata Wulan yang menikah untuk kedua kalinya pada 2009.
Motivasi terbesar
Meskipun sulit, Wulan berhasil memberanikan diri untuk bangkit dari keterpurukannya dengan fokus bekerja dan berkarya untuk anak semata wayangnya. Dengan fokus berkarya, ia bisa berprestasi sehingga bisa lebih dihormati dan dihargai atas capaian yang diraih. Keinginan agar anaknya bisa tumbuh kembang dengan baik adalah motivasi terbesarnya saat itu. "Aku merasa sayang sama diri aku dan juga anak," sebutnya.
Pengalaman-pengalamannya di masa lalu yang sangat berbekas itu pun menjadi pelajaran bagi dirinya dalam mendidik anak-anaknya saat ini.
Di tahun keduanya, festival itu akan digelar selama 16 hari, pada 25 November-10 Desember 2018 di beberapa daerah, yaitu Jakarta, Serpong, Surabaya, Jombang, Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muara Bungo, Semarang, Rembang, Sragen, Yogyakarta, Bengkulu, Bandar Lampung, dan Denpasar.
Menurutnya, ajang itu bisa menjadi tempat berkumpulnya pegiat antikekerasan dan korban kekerasan. Awalnya, korban mungkin hanya ikut berkumpul, tapi diharapkan nantinya mereka akan berani untuk mengungkapkan kekerasan yang pernah dialami. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved