Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN Marsha Timothy, 39, sebagai Nyai Ontosoroh dalam teater Bunga Penutup Abad mendapat banyak apresiasi. Ia dianggap sukses memerankan sosok Ontosoroh sekaligus memberikan warna baru pada pentas itu.
Marsha mengaku dapat menjalankan peran itu dengan baik berkat tim. "Itu treatment yang luar biasa dari tim," katanya saat ditemui seusai media preview Bunga Penutup Abad di Teater Jakarta, beberapa waktu lalu.
Berperan sebagai Nyai Ontosoroh memberikan tantangan yang besar bagi istri aktor Vino Bastian tersebut. Terlebih ia harus menghafal keseluruhan naskah karena pementasan teater berbeda dengan berakting di depan kamera.
Selain itu, pada pentas tersebut aktris pemenang berbagai penghargaan itu dihadapkan pada naskah yang sangat panjang. Beruntung Marsha mendapat dukungan dari tim, terlebih dari sutradara Wawan Sofwan dan produser Happy Salma.
"Ketika pertama kali baca (naskah), saya juga merasa sepertinya saya enggak mungkin bisa hafal. Gimana caranya? Tapi ternyata memang Kang Wawan (Wawan Sofwan) dan Happy (Happy Salma) selalu bilang pasti bisa, pasti bisa," tambahnya.
Ibu dari Jizzy Pearl Bastian yang mengaku baru dua kali bermain teater itu mengungkapkan, sebelum naik ke panggung teater Bunga Penutup Abad, ia harus berjibaku dalam latihan berat yang dilakukan selama tiga bulan.
"Yang dibutuhkan memang proses. Kita kan latihannya cukup lama. Jadi beruntung saya punya waktu cukup. Pelan-pelan, enggak langsung semuanya," imbuhnya.
Perempuan tangguh
Setiap aktor mempunyai cara tersendiri untuk bisa masuk ke karakter sosok yang diperankan. Marsha masuk ke karakter Nyai Ontosoroh lewat pemahaman karakter bahwa Nyai Ontosoroh ialah seorang perempuan tangguh yang hidup di zaman kolonialisme Belanda. Ia bisa maju sekaligus menjadi pendobrak zaman ketika itu.
"Nyai Ontosoroh perempuan yang luar biasa kuat. Yang bisa memutarbalikkan dominasi, yang punya kemauan kuat. Di zaman itu belum ada feminisme. Tapi dia seperti itu," ujar pemeran dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Wiro Sableng, Kulari ke Pantai, The Raid 2: Berandal, dan sederet film sukses lainnya.
Berdasarkan pemahaman itulah, ia bisa masuk ke karakter Nyai Ontosoroh dan sukses menjalankan peran. Akan tetapi, pemahaman sebagai perempuan tangguh hanya salah satu karakter Nayi Ontosoroh. Karkater lain Nyai Ontosoroh ialah seorang ibu yang amat sayang dan cinta terhadap anaknya.
"Salah satunya (perempuan tangguh) iya. Tentunya ketika kita masuk karakter, kita pelajari dulu karakter dia seperti apa. Itu salah satunya. Tapi dia juga adalah seorang ibu," pungkas Marsha. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved