Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT kasus bunuh diri di Bali cukup tinggi. Pada 2004 sebanyak 180 orang melakukan bunuh diri di Bali dan sampai saat ini pun masih banyak kejadian bunuh diri yang terjadi di Bali. Hal itulah yang menggerakkan hari Luh Ketut Suryani membuat sebuah gerakan bersama anaknya yang membuatnya bahkan dianggap gila oleh masyarakat Bali.
Penyebab kejadian itu lebih lanjut dijelaskan oleh Luh Ketut Suryani atau biasa disapa Suryani ialah kesalahpahaman bahwa banyak orang yang menganggap kejadian itu disebabkan masalah ekonomi.
Namun, ternyata penyebab yang paling banyak membuat orang-orang khususnya di Bali melakukan tindakan bunuh diri ialah depresi dan gangguan jiwa bera, hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga, teman, dan lainnya pun bisa menjadi penyebab, dan terakhir karena faktor penyakit fisik, seperti stroke, kencing manis, dan lainnya. Justru permasalahan ekonomi merupakan urutan terakhir dalam penyebab orang melakukan tindakan bunuh diri.
Sebagai seorang psikiater, Suryani pun tak pernah menduga kejadian itu bisa berakibat pada perbuatan serius seperti itu. Mempunyai gelar profesor doktor dan mengenyam bidang keilmuan kedokteran, Suryani pun membuat sebuah survei untuk memperlihatkan penyebab dari banyaknya orang-orang Bali yang melakukan tindakan bunuh diri.
"Permulaan saya tidak menduga bahwa begitu banyak orang Bali mencoba bunuh diri. Jadi, karena melihat data seperti itu, saya mencoba mencari apakah yang menyebabkan mereka, dan akhirnya dalam survei kami menemukan seperti itu. Tetapi saya pun harus melakukan tindakan karena relawan yang kami kerahkan untuk mencari data penyebab mereka melakukan bunuh diri, dengan janji bahwa Ibu Suryani akan membantu jika bapak dan ibu memang mengalami gangguan. Karena hampir semua warga yang ditanya tidak mau menjawab pertanyaan dan karena relawan berjanji bahwa Suryani akan membantu, maka saya harus memenuhi janji mereka," ungkap Suryani.
Suryani pun turun langsung ke lapangan untuk menjumpai masyarakat dan mencoba mengetuk pintu hati masyarakat dengan cara menjelaskan bahwa siapa pun yang ingin bunuh diri dipersilakan untuk datang ke kantor Suryani yang bernama Layanan Hidup Bahagia yang didirikan di Buleleng dan Karangasem karena tingkat bunuh diri paling banyak terjadi di wilayah itu.
Rupanya hal itu pun berakhir nihil karena masyarakat menganggap bahwa Layanan Hidup Bahagia tidak menyelesaikan permasalahan mereka. Suryani pun mengatakan mereka lebih memercayai balian atau dukun untuk didatangi. Suryani juga mengalami hal tak terduga. Saat itu ia pun turun langsung ke masyarakat untuk menangani hal itu.
"Yang mengejutkan adalah banyak dari pasien itu dipasung, dikurung, dan kami tidak pernah menduga. Yang kami temukan adalah dari usia 5 tahun sampai 40 tahun mereka dipasung. Kami baru menangani sekitar 800 orang, dan jumlah di Bali ada 9.000 gangguan jiwa berat," ungkap perempuan kelahiran Bali itu.
Tindakan yang Suryani lakukan tentu ada pengalaman di baliknya. Suryani pernah mengalami suatu peristiwa saat ia menangani seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengalami gulliambarre dengan terjadinya kelumpuhan dari bawah, atas, dan pada saat itu Suryani memberikan obat untuk mencegah kelumpuhan total. Ketersediaan obat yang sudah tidak ada membuat Suryani bertanya kepada kedua orangtua anak tersebut untuk membelikan anaknya obat. Karena tidak ada uang untuk membelinya, akhirnya anak tersebut meninggal di depan Suryani dan hal itu menjadi penyesalan terdalam baginya.
Banyak teman
Semenjak itu, Suryani gigih untuk terus melakukan kebaikan agar tidak ada lagi kejadian nahas tersebut yang bisa menimpa siapa pun. Hal itu pun ia ajarkan kepada anaknya, yaitu Cokarda Jaya Lesmana Bagus, yang juga mengikuti jejak Suryani untuk menjadi seorang dokter. Bercita-cita sedari kecil untuk menjadi dokter, Cok Bagus pun terpengaruh oleh profesi ayah dan ibunya yang juga seorang dokter dan ia berkeinginan untuk membantu orang lain.
"Setelah melanjutkan pendidikan di kedokteran itu kan banyak pilihan yang muncul. Mau jadi dokter bedah, dokter kandungan, atau dokter ahli jiwa seperti ibu. Waktu itu emang sempet bimbang karena banyak masukan, ngapain jadi dokter jiwa, enggak ada uangnya itu. Sempet juga berargumen sama ibu boleh enggak milih yang lain. Tapi ibu punya argumen yang membuat saya juga akhirnya membuat pilihan yang sama. Beliau berkata kamu lebih senang punya uang yang banyak atau punya teman yang banyak. Ibu kasih contoh seperti saya punya uang mungkin tidak banyak, tapi teman di mana-mana," ungkap pria yang biasa dipanggil Cok Bagus itu.
Cok Bagus pun aktif ikut terlibat langsung bersama ibunya untuk menangani permasalahan bunuh diri. Cok Bagus pun sedih melihat bahwa hal itu tidak pernah ia ketahui bahkan saat mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, bahwasanya masih banyak orang-orang yang mengalami tindakan pasung. Melihat permasalahan itu, Cok Bagus pun ikut terlibat dalam penanganan permasalahan bunuh diri ini. Cok pun merasa bangga dengan ibunya yang walaupun sudah tua masih mau untuk terjun langsung mengatasi permasalahan itu dan ia sebagai anak muda harusnya malu dan mau ikut terlibat.
Sejak 2000 memang Cok Bagus sudah ikut terlibat bersama ibunya dan ketika secara resmi menjadi psikiater ia malah lebih aktif lagi untuk ikut bersama ibunya. Suryani pun membuat sebuah institut yang diberi nama Institute for Mental Health yang didirikan dengan tujuan khusus.
"Saya ingin mengembangkan apa yang kami pikirkan. Bahwa gangguan jiwa, tidak seperti yang selama ini orang katakan. Memang faktor keturunan sangat memengaruhi. Namun, Suryani lebih melihat dari masih dalam kandungan sampai 10 tahun pertama," ungkap perempuan yang merupakan pendiri Institute for Mental Health.
Kebanyakan yang mengalami gangguan jiwa dipasung juga dikatakan oleh Suryani merupakan faktor dari ketidaktahanan orangtua dalam menangani anaknya sehingga ia dipasung agar tidak mengganggu. Perawatan untuk orang-orang yang dipasung itu pun melalui beberapa tahap, yaitu diberikan suntik injeksi dan biopsicho spirits sosiobudaya yang melakukan meditasi dan melakukan beberapa tindakan spirit dan melihat pasien sebagai manusia secara utuh. Pengobatan itu pun dilakukan secara gratis oleh Suryani.
"Yang memengaruhi seseorang itu bisa mengalami gangguan jiwa adalah faktor di dalam kandungan sampai 10 tahun pertama. Misalnya, ibu-bapaknya berkelahi, atau anak ini tidak diharapkan, mau diguggurkan. Itu semua masuk dalam memori anak dan jangan berpikir itu cuma janin segumpal darah dan sebagainya. Mereka ada rohnya yang mempunyai memori dan sebagainya. Kemudian setelah itu waktu menyusui setlah lahir sampai 10 tahun pertama, bisakah ibu-bapak itu jangan marah sama anak, kemudian jangan mencaci maki anak, menghukum anak, dan yang paling sering anak itu mengalami bullying oleh gurunya waktu TK dan SD. Berikan pendidikan kepada mereka-mereka yang belum menikah atau sudah menikah, kemudian yang sedang mengandung. Itu sangat memerlukan pengarahan dan untuk guru-guru TK dan SD karena ditangan beliaulah harapan kita tidak terjadi gangguan jiwa," tutup Suryani.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved