Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
REINA, gadis kecil tergolek di suatu perkampungan di pinggir pantai. Ia baru siuman. Wajah dan pakaiannya tampak lusuh lagi kotor.
Kamera beralih, menyorot beberapa preman yang berjejer sembari mengarahkan senapan kepada Reina. Satu di antara mereka, Ito, perlahan bergerak maju. Moncong senapannya tertuju ke Reina.
"Tiga tahun gue jadi mesin pembunuh mereka. Enggak kehitung pembantaian yang sudah gue lakui. Kalau sudah dilantik menjadi six seas, hukumnya mutlak, jangan pernah mengampuni. Tapi, saat itulah aku melihat satu kehidupan kecil yang sudah di ujung tanduk. Mungkin... Mungkin saja...gue bisa mengubah takdir gue..." kata Ito.
Adegan di atas merupakan cuplikan film The Night Comes for Us yang diproduksi Netflix dan mulai tayang di Tanah Air pada 19 Oktober 2018. Film ini ialah salah satu yang ditunggu khalayak karena sang sutradara, Timo Tjahjanto, mengumpulkan kembali bintang-bintang dalam film The Raid dan The Raid II, seperti Iko Uwais, Joe Taslim, dan Julie Estelle.
The Night Comes for Us bercerita dua sahabat, Ito dan Arian. Masing-masing diperankan Joe Taslim dan Iko Uwais. Keduanya terjebak dalam sebuah kelompok triad yang sangat kejam dan harus menyelesaikan masalah yang ada.
Film berdurasi sekitar dua jam tersebut diharapkan akan semakin mempertegas Indonesia sebagai salah satu kiblat film-film laga dunia. Film The Night Comes for Us pun naga-naganya menjadi film paling brutal yang tayang pada 2018 ini. Tidak hanya dengan tangan kosong, tapi juga berbagai senjata yang kadang tidak terduga, mulai kujang, golok, tali, gergaji mesin, hingga pecahan botol.
Akibatnya, banyak adegan perkelahian yang bikin ngilu, seperti mulut yang dicocor pecahan botol, kaki dipotong dengan gergaji mesin, kepala yang pecah dipukul, leher ditusuk dengan pecahan kaca, hingga usus dalam perut yang terburai. Adegan-adegan tersebut semakin dramatis lantaran dibarengi efek suara napas yang sesak layaknya orang yang akan menemui ajal.
Timo menjelaskan, koreografi laga dalam film tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Uwais Team. "Jelas 100% Uwais Team. Itu semuanya orang Indonesia," jelasnya melalui pesan elektronik.
Semua anggota tim Iko Uwais punya latar belakang bela diri, terutama silat. Mereka tergabung dalam perguran silat Tiga Berantai dan memang sudah terkenal dengan ilmu silat turun-temurunnya. "Latihan koreografinya sekitar dua bulan, termasuk proses menghafal gerakannya, imbuhnya.
Timo berpendapat, The Night Comes for Us merupakan pencapaian terbesar hingga kini. Apalagi, distribusinya berkolaborasi dengan Netflix, penyedia layanan media streaming digital asal Amerika Serikat. Jadi, jangan heran jika tidak, atau mungkin belum, menemukan film ini di jaringan bioskop nasional.
"Dengan berpartner bareng Netflix, film ini jadi punya eksposure lebih luas, lebih leluasa dalam berkreasi, dan jadi termotivasi untuk memenuhi standar internasional," kata sutradra yang akan menghidupkan kembali tokoh pendekar asli Tanah Air, Si Buta dari Gua Hantu, itu.
Dijumpai dalam kesempatan terpisah, aktor Joe Taslim berharap The Night Come From Us membukakan jalan bagi lebih banyak sineas Indonesia untuk untuk berkiprah di industri film dunia. Sebelumnya, keberhasilan film The Raid I telah membawa aktor-aktor seperti Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, hingga Cecep Arif Rahman bermain di film produksi Hollywood.
Bukan pertama
The Night Comes for Us bukanlah film pertama yang tampil di platform digital. Sebut saja Joko Anwar dengan film series Halfworlds yang diproduksi HBO Asia. Selain itu, ada pula platform Viu yang rutin memproduksi Viu original series karya sineas Indonesia, seperti The Publicist, Kenapa Harus Bule?, Sunshine, Switch, dan Halustik. Bahkan, saat ini, mereka sedang memproduksi original series berjudul KZL.
Varun Mehta, Country Head Viu, menyebutkan sineas Indonesia memiliki banyak kreativitas dalam dalam perfilman, tetapi mereka masih sangat kurang mendapat kesempatan. Oleh sebab itu, pihaknya berupaya membuka peluang tersebut.
"Ini memvalidasi komitmen kami kepada talent Indonesia, kami selalu melihat kreativitas sineas Indonesia tidak kalah dengan sineas lainnya di dunia," kata dia.
Para sineas muda tanah air pun terbukti memiliki potensi yang besar. Buktinya ialah penghargaan-penghargaan yang diraih Viu di Asian Academy Creative Awards pada babak kualifikasi nasional, semisal best drama series untuk The Publicist, best actor in supporting role untuk Michael Kho dalam perannya sebagai Arik di Kenapa Harus Bule?, dan beberapa lainnya.
Asian Academy Creative Awards merupakan ajang penghargaan internasional di dunia industri kreatif yang diadakan setiap tahun. Ajang ini sebagai puncak pencapaian dalam pembuatan konten dan penghormatan atas keunggulan dalam keahlian dan teknis. Gala Final dari Asian Academy Creative Awards akan dihelat di Singapura, bulan depan. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved