Sri Mulyani Bendahara di Tahun Bencana

(Fat/H-3)
18/10/2018 06:10
Sri Mulyani Bendahara di Tahun Bencana
( ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

MENJADI bendahara negara di tahun bencana merupakan pengalaman tersendiri bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, 56. Belum rampung penanggulangan bencana gempa di Lombok, NTB, dan erupsi Gunung Agung di Bali, Indonesia kembali didera musibah dengan munculnya gempa yang diikuti tsunami di Sulawesi Tengah, awal Oktober 2018.

Perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 itu pun mengaku pusing karena selalu ditanya mengenai ketersediaan dana bencana.

"Wartawan tiap kali men-doorstop saya selalu bertanya, “Ibu, do you still have money? (Ibu masih punya uangkan?),” curhat mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu di hadapan mantan bosnya, Kim Yong Jim dalam sesi diskusi di Annual Meeting IMF-World Bank di Bali, Rabu (10/10).

Setengah tersenyum, ibu tiga anak itu mengatakan, pertanyaan yang selalu ada di tiap sesi wawancaranya merupakan pertanyaan menarik. Seperti anak yang bertanya pada ibunya, awak media kerap mendesak pemerintah soal anggaran bencana yang sudah melampaui kuota anggaran.

Mantan Kepala Bappenas itu pun mengaku dirinya tertekan lantaran kapasitas Menkeu sesungguhnya hanya sebatas bendahara negara. "Itu memberikan tekanan yang terjadi berlebihan bagi saya dan tidak membantu," ungkap mantan dosen UI itu.

Belajar dari tahun bencana ini, Sri Mulyani bertekad akan memperbaiki penganggaran risiko bencana tahun depan berikut dengan data dan info yang lebih akurat. "Kita butuh rencana yang lebih baik," pungkas peraih penghargaan Menkeu Terbaik se-Asia Pasifik 2018 dari media Global Markets.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya