Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"HALO Raisa. Apa kabar? Jaga kesehatan ya karena kesehatan itu mahal," ucap Sutopo Purwo Nugroho, saat melakukan video call dengan penyanyi Raisa Andriana, 28, di Jakarta, Rabu (3/10) siang.
Meskipun sudah mencoba bersikap wajar, laki-laki kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969, tetap saja salah tingkah. Bagaimana tidak, percakapan Sutopo siang itu disaksikan belasan pasang mata. Ada puluhan kamera dan ponsel yang mengabadikan momen langka tersebut.
"Ini menjadi kenangan terindah buatku. Bahkan, aku sudah nyanyi lagu mbak di depan mereka," sahutnya lagi.
Sosok Sutopo Purwo Nugroho tak asing lagi dikalangan para awak media. Sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo telah menjadi menjadi penyambung lidah peristiwa bencana di Tanah Air, apa pun bentuknya, mulai gempa bumi, banjir, longsor, gunung meletus, hingga tsunami.
Baru-baru ini, Sutopo menggegerkan dunia maya seiring dengan munculnya tagar #RaisaMeetSutopo. Musababnya, dia acap kali mencuitkan akun Twitter Raisa kala memberikan informasi bencana melalui media sosial (medsos).
Hingga akhirnya, warganet menangkap 'pesan tersirat' Sutopo itu dan mencoba mempertemukannya dengan Raisa di dunia nyata. Komunikasi pertama terjadi antara keduanya lewat video call itu.
"Saya sebetulnya ngefan sudah lama (Raisa). Saya mention akun Raisa sebenarnya supaya follower-nya yang 8,3 juta itu juga bisa tahu informasi bencana. Saya juga mention Pak Jokowi yang follower-nya jutaan," aku pemilik akun Instagram @sutopopurwo dengan lebih dari 16 ribu pengikut itu.
Ia bahkan mengaku hafal lagu-lagu Raisa, seperti LDR, Mantan Terindah, dan Terjebak Nostalgia di luar kepala. "Yang telah kau buat, sungguhlah indah. Buat diriku susah lupa," ujarnya saat menyebutkan penggalan lirik lagu Mantan Terindah yang amat bermakna bagi dirinya.
Tak cukup video call, peraih Outstanding Spokeperson (Humas Terbaik) dari Asosiasi Media Asing di Indonesia (2017) itu masih berharap lebih dari Raisa. "Nanti kalau saya ketemu Raisa saya tawari dia jadi duta bencana BNPB. Dia artis yang bagus dan terkenal, pasti dia mudah untuk sosialisasi kepada masyarakat agar tanggap bencana," ujarnya dengan mimik serius.
Kanker dan bencana
Tak banyak kalangan masyarakat umum yang tahu bahwa ayah dua anak itu menjadi penyintas kanker paru stadium 4. Sejak didiagnosis kanker pada Januari 2018, Sutopo kerap bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi.
"Letih dan capek itu saya rasakan. Kondisi fisik memang tidak bisa ditipu. Sakit yang saya alami telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkan saya lemah," ujar pria yang 7 Oktober mendatang genap berusia 49 tahun itu.
Jika ada bencana baik itu kecil maupun besar, telepon genggamnya tak berhenti berdering. Yang mencarinya bukan hanya awak media, melainkan juga kementerian ataupun staf kedutaan.
Pascagempa berkekuatan 7,4 SR dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) sore, misalnya, Sutopo sibuk menginformasikan kabar terkini dari lokasi bencana. Sesekali, dia melontarkan candaan di sela-sela pembicaraan bersama awak media. Humor, menurutnya, bisa jadi pelipur dalam kondisinya saat ini.
Soal humor ini juga yang membuat Raisa penasaran. Istri aktor, presenter, dan arsitek Hamish Daud itu bertanya apakah Sutopo pelawak karena sikapnya yang humoris? "Saya dulu pernah di Srimulat, tapi nyasar ke BNPB sekarang," jawab Sutopo.
Meski selalu muncul dengan wajah pucat, dia tetap kuat meladeni para wartawan berjam-jam. Mahasiswa teladan di Fakultas Geografi UGM yang lulus dengan predikat cum laude itu berprinsip bahwa dedikasi dan tanggung jawab terhadap pekerjaan ialah hal yang tidak boleh diabaikan, meski kondisinya tak lagi prima. "Mungkin memang penanggulangan bencana itu hidup saya," ungkapnya.
Selain memberikan informasi terkini, Sutopo juga bekejaran dengan waktu untuk mengklarifikasi informasi bencana yang berseliweran di jagat maya. Selain mengirimkan pesan berantai kepada kalangan media, dia juga rajin mengklarifikasi isu bencana melalui media sosial untuk menjangkau masyarakat umum.
"Kalau ada hoaks yang muncul saya selalu posting penjelasan di medsos. Saya hafal semua foto-foto yang digunakan penebar hoaks. Itu foto bencana lama atau bencana di luar negeri yang diedit seolah bencana terjadi di sini (Indonesia)," kata mantan peneliti hidrologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu.
Meski tetap bekerja, Sutopo tahu diri. Dia mengurangi frekuensi ke luar kota demi menghindari kelelahan berlebih. Dia juga menjaga asupan makanan dengan banyak mengonsumsi sayuran dan tidak mengonsumsi asupan yang mengandung protein hewani. (H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved