Iwet Ramadhan Buat Batik Kuno Lebih Kekinian

Indriyani Astuti
03/10/2018 07:00
Iwet Ramadhan Buat Batik Kuno Lebih Kekinian
( ANTARA FOTO/Audy Alwi/ama)

SEJAK ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO, pada 2009, batik kian mendapat tempat istimewa.

Terlebih, dengan diperingatinya Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.

Di balik perayaan itu, ada kegelisahan tersendiri yang dirasakan desainer Iwet Ramadhan, 37. Menurutnya, penggunaan batik bermotif klasik jarang dipilih karena dianggap kuno oleh kalangan muda. Meskipun kesadaran anak muda untuk melestarikan batik semakin meningkat.

"Ini kita ngomongin motif klasik itu filosofinya sangat tinggi sekali. Tetapi, bagaimana kita mengaplikasikannya itu menjadi modern. Itu tantangannya," ucapnya di Jakarta, kemarin.

Laki-laki kelahiran Yogyakarta, 24 Juli 1981 itu pun coba membuat batik menjadi lebih kekinian dengan rancangan motif-motif batik klasik yang ada. Kombinasi gaya klasik dan unsur kekinian dalam sehelai kain ternyata membuat batik menjadi lebih menarik.

Salah satu motif batik kuno yang diaplikasikannya ialah Sawunggaling yang dipadukan Iwet dengan latar hujan rintik dan pola polkadot. "Agar lebih relate dengan anak muda. Ada juga saya pakai latar strip untuk kombinasi kain batik cap dan tulis. Itu motif klasik kupu-kupu dan kita bawa sebagai pop dan zaman sekarang," sebut penyiar radio yang memiliki nama lengkap Wethandrie Ramadhan itu.

Selain mengombinasikan motif batik kuno dengan sentuhan pop, Iwet juga memainkan perpaduan warna. Pemilik label Tikprive dan Tikshirt itu membuat batik kekinian dengan warna-warna lebih terang yang digandrungi anak muda. Ia berharap dapat meninggalkan kesan tua yang selama ini melekat pada batik.

"Seperti karya saya, ada Beautiful of Sorrow, ada Birth of Happiness. Ini semua diambil dari motif-motif klasik misalnya, burung bangau, kupu-kupu, tanahan batik Pekalongan. Ini tetap aku pakai tapi warnanya saja yang aku ubah agar lebih relate dengan anak muda," terang Iwet yang mengaku pemerhati dan pelestari budaya batik itu.

Di matanya, Iwet menilai, perkembangan batik di Indonesia cukup progresif dan maju. Salah satunya ditunjukkan dengan terus bermunculannya merek-merek batik untuk anak muda.

Eksplorasi batin

Desainer yang juga presenter itu mengungkapkan, sejumlah motif batik kekinian rancangannya itu didapatnya dengan mengeksplorasi ruang batinnya. "Sebuah proses pencarian... Berikut adalah perjalanan saya dalam mengolah rasa, mengisi jiwa, melestarikan warisan nenek moyang yang sarat makna," ungkap Iwet dalam akun Instagram-nya.

Dalam salah satu Instastory-nya, Iwet juga menceritakan, teknik membatik masuk ke Indonesia lewat kota di utara pesisir Jawa bernama Lasem.

Dibawa awak kapal Laksamana Cheng Ho dan diajarkannya ke seluruh warga Lasem. Batik Lasem memiliki ciri motif latohan, sejenis tanaman rumput laut di pantai Lasem yang juga menjadi salah satu bahan makanan urap.

"Dari Lasem, batik ini masuk ke pedalaman Jawa yang disebut batik Sogan yang terbagi dua, batik Solo dan batik Jogja. Perbedaannya, warna batik Solo pakai warna keemasan. Batik Jogja latarnya putih seperti motif parang barong," tuturnya dengan suara yang renyah.
(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya