Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LIMA belas tahun sudah Butet Manurung, 46, terjun mengupayakan peningkatan edukasi untuk masyarakat adat. Melalui lembaga yang didirikannya, Sokola Rimba, ia dan rekan-rekannya mengajar anak-anak dan masyarakat yang hidup di sekitar hutan.
Dari kesehariannya bersama masyarakat adat, ia menyimpulkan masyarakat adat bukanlah kelompok masyarakat yang bodoh, terbelakang, dan miskin.
"Mereka adalah masyarakat yang bahagia dengan hidupnya. Hidup berkecukupan dan kaya dengan sumber daya alam serta kearifan lokal yang sesuai dengan kondisi lingkungan mereka,” jelas Butet dalam acara peringatan 15 tahun Sokola Rimba di Jakarta, Rabu (26/9).
Ia mencontohkan tingkat penangkapan materi pembelajaran orang Rimba di Jambi selama ini cukup cepat. Mereka bisa baca dan tulis dalam seminggu, bahkan belajar mengenal huruf hanya perlu waktu dua jam.
Namun, satu hal yang dia tekankan, hal-hal yang diajarkan kepada masyarakat adat perlu disesuaikan karena setiap masyarakat adat memiliki budaya dan masalah yang berbeda-beda. "Kurikulum harus menyesuaikan, ajari apa yang mereka pakai. Kalau tidak mereka pakai, mereka akan bertanya untuk apa. Semuanya harus ada manfaatnya," ujar dia.
Materi ajar, lanjutnya, juga tidak bisa seragam. Di Flores yang banyak kapal bom ikan, misalnya, masyarakat adat selain diajari cara mengusirnya, juga diajari budi daya terumbu karang untuk memperbanyak populasi ikan.
"Di Jember, di kaki gunung itu ada petani kopi yang sering ditipu karena tidak tahu biji kopi yang bagus seperti apa sehingga dibeli tengkulak sebelum panen. Kita panggil ahli kopi untuk menjelaskan bagaimana kopi yang baik, jadi disesuaikan," lanjut Butet.
Satu tantangan yang masih dihadapi ialah persepsi masyarakat adat bahwa sekolah itu tabu. Mereka tidak bisa menerima sembarangan orang luar untuk mengajari mereka. Jadi, upaya pendekatan perlu dilakukan lebih dulu sebelum memulai program belajar mengajar. Selain itu, yang terpenting ialah menghormati adat istiadatnya.
"Kita harus belajar bahasa mereka. Kita semua mengajar harus pakai bahasa lokal. Adat istiadat, nilai-nilai jangan diganggu. Yang kita ajarkan hanya ilmu-ilmu luar yang kita pakai untuk menghadapi tantangan zaman ini," jelas Butet.
Standar berbeda
Pada kesempatan itu, Butet juga menyampaikan bahwa cara pandang yang salah sering kali menyebabkan bantuan dan program kepada masyarakat adat tidak tepat sasaran. Masyarakat umum tidak bisa menerapkan standar kehidupan modern untuk mengukur kehidupan masyarakat adat.
"Jadi, jangan selalu disamakan pakai ukuran kita. Birokrat yang harus bisa memakai cara penilaian adat," imbuhnya.
Ia mencontohkan ukuran keberhasilan seorang pelajar. "Misalnya, ada satu anak Rimba yang dapat masuk ke universitas, tapi itu hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, maka itu gagal. Banyak masyarakat adat yang menuding sekolah formal itu mengajarkan ilmu pergi, anak diajarkan pergi meninggalkan kampungnya karena ilmunya tidak kontekstual. Setelah tamat, tidak bermanfaat bagi komunitasnya," paparnya.
Butet pun berharap apa yang sudah dilakukannya bersama dengan rekan-rekan di Sokola Rimba dapat diadopsi pemerintah dan menjadi sebuah gerakan nasional. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved