Keintiman nan Menghangatkan Jazz Ijen

Fathurrozak
30/9/2018 02:30
Keintiman nan Menghangatkan Jazz Ijen
(Fathurrozak)

INDONESIA menjadi salah satu negara yang punya banyak festival jazz. Begitu klaim musikus Gregorius Djaduk Ferianto, salah satu otak di balik langgam jazz yang masuk ke lereng gunung.

Dari udara dingin yang menusuk, penonton tampak begitu mengalami kehangatan dari musisi jazz yang tampil beberapa ratus meter di hadapan mereka. Jazz Ijen salah satunya, mengajak kita menikmati jazz berbaur dengan alam dan kearifan lokal Banyuwangi.

Tampil di panggung yang terbuat dari jalinan bambu dengan desain bak sangkar burung, Marcell Siahaan memantik bara dengan nada jazz-nya yang mengalun lembut. Ia mendahului Idang Rasjidi dan Andien Aisyah di panggung dengan ketinggian hanya berjarak sekian jengkal dari rumput di Taman Terakota Jiwa Jawa Resort, Desa Licin, Banyuwangi. Semusim, Jangan Pernah Berubah, hingga Siapa Namanya ciptaan Sundari Soekotjo, Malam Minggu milik legenda Benyamin Sueb ia lantunkan bersama Shadow Puppets. Tampil bersama Shadow Puppets memang membawa Marcell untuk menembangkan lagu nostalgia lawas.

Sesekali, pria berkepala plontos itu terlihat menggigil kedinginan. Wajar saja, suhu Sabtu malam (22/9) itu, menyentuh angka 24 derajat celsius, bahkan di bawahnya. "Di antara keluarga, hanya anak perempuan saya, tuh, yang paling kecil yang tahan dingin. Istri saya saja yang mukanya bule, yang kayaknya tahan dingin ternyata juga palsu," kekeh Marcell.

Bara hangat yang telah dipantik Marcell itu pun seketika makin membesar tatkala Idang Rasjidi duduk untuk menari bersama tuts pianonya. Ia bersama Julius Sjoerd Pattiselanno atau lebih dikenal dengan nama Oele Pattiselanno yang bertugas memetik gitar. Dua legenda itu mengajak kawanan anak muda yang disebut Idang Rasjidi ‘The Next Generation’.

Mereka tampak asyik berimprovisasi, sesekali Idang juga unjuk kemahirannya ber-scat singing. Putu Sastrani Dewantari yang digaet untuk melantunkan tembang membawa suasana kian khidmat. Ia yang berasal dari penyanyi opera itu membawa nuansa seriosa di antara tiupan saksofon. Sebelum akhirnya legenda lain juga muncul, melengkapi Idang dan Oele.

"Kata sahabat saya Gus Mus, banyak orang tahu apa yang dia tidak tahu, sama seperti orang buta bawa senter nunjukin kita jalan. Sekarang banyak yang seperti itu hadir dalam kehidupan kita," celetuk Idang sesaat sebelum memainkan Arti Kehidupan sembari mempersilakan pelantunnya mengambil gitar.  

Mus Mujiono dengan udengnya, memetik gitar perlahan, dengan tempo pelan, ia membawakan Arti Kehidupan. Tak menunggu lama penonton yang hadir dan duduk anteng langsung tergerak bibirnya untuk menyanyi bersama, dilanjutkan dengan lagu Tanda-Tanda yang lebih energik.

Lesung pipit Banyuwangi

Bila Idang menawarkan nuansa latin dan free jazz-nya, penutup Jazz Ijen, Andien Aisyah, membawa nuansa yang lebih groovy dan punya sentuhan elektro. Mungkin banyak yang mengira setelah Idang, Oele, dan Nono, sapaan untuk Mus Mujiono turun panggung, bara api akan padam, dan jiwa Jawa kembali dingin. Rupanya, Andien punya cara untuk tetap menjaga kehangatan para insan jazz di Taman Terakota.

Ia tetap membawa nomor andalannya yang mampu membuat badan bergoyang, seperti Sahabat Setia dan Milikmu Selalu. Bahkan, ia rela turun dari panggung dengan melepas hak tingginya untuk mengajak para penonton, termasuk Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berjoget.

Mereka yang dari Surabaya, Makassar, Bali, juga Jakarta larut dalam lantunan nada-nada jazz malam itu. Seorang penonton mengaku datang dari Jakarta dengan motor untuk menikmati Jazz Ijen pertamanya. Salah seorang lagi, datang dari Bali dengan kapal yang juga ini menjadi pengalaman Jazz Ijen perdananya.

Di tempat terbuka, di antara pepohonan, patung-patung terakota penari Gandrung, panggung bambu, jazz seolah merakyat, menjelma menjadi suatu unsur lokalitas Ijen. Dari situlah keintiman berasal, menciptakan perasaan hangat dan personal. "Saya menangkap perasaan hangat di sini," kata Andien.

"Kalau Banyuwangi tersenyum, tempat ini ialah lesung pipitnya," puji Idang disambut tepuk tangan sekitar 700 penonton yang hadir, termasuk Media Indonesia yang turut dalam rombongan tur pariwisata Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata.

Jazz Ijen merupakan saudara Jazz Gunung Bromo dari PT Jazz Gunung yang digawangi Sigit Pramono juga Djaduk dan kini menjadi salah satu rangkaian Festival Banyuwangi. Bila Djaduk mengatakan Indonesia jadi negara yang punya festival jazz terbanyak, Jazz Ijen patut masuk daftar wajib hadir festival jazz di Indonesia, dengan keintiman lanskap alamnya nan menghangatkan.(M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya