Lea Simanjuntak Menyanyi dengan Karakter Vokal Khas Dayak

Abdillah Muhammad Marzuqi
28/9/2018 06:00
Lea Simanjuntak Menyanyi dengan Karakter Vokal Khas Dayak
(MI/ BARY FATHAHILAH)

PENYANYI Lea Simanjuntak, 39, bertekad tampil maksimal dalam pentas teater Bawi Lamus yang bakal digelar pada 13-14 Oktober mendatang di Teater Jakarta. Apalagi, vokalnya bakal berpadu dengan orkestra yang dikomandoi Erwin Gutawa.

Perempuan bernama lengkap Lea Angeline Simanjuntak dan bersuara sopran tersebut sering bernyanyi dengan teknik seriosa, terutama dalam penampilan panggungnya. Tak terkecuali dalam penampilannya mendatang.

Pentas Bawi Lamus yang mengambil latar Kalimantan lekat dengan seni dan budaya suku Dayak. Pertunjukan teater tersebut ialah narasi tentang kondisi Kalimantan. Bukan hanya tentang keindahannya, melainkan juga tentang cita-citanya.

Lea mengaku mempersiapkan kemampuan terbaiknya untuk bisa bersenyawa dengan musik orkestra. Ia memulai dengan pengambilan nada dasar setiap lagu dan menelaah teknik vokal yang cocok.

"Persiapan saya selain mengambil nada dasar di setiap lagu, mungkin mengombinasikan teknik yang diperlukan. Apakah itu teknik semi klasikal, perpaduan klasikal sama sound-sound yang tradisional seperti yang kita dengar dari penyanyi Dayak tradisional," kata Lea di Jakarta, Rabu (26/9).

Menurut perempuan kelahiran Singapura 7 Juli 1979 tersebut, vokal Dayak sangat khas, yakni lebih belting. Istilah belting merujuk pada teknik vokal dalam musik kontemporer dengan menggunakan suara dada dengan memodifikasi teknik produksi suara. "Belting itu suara yang langsung keluar," terangnya.

Belting dalam karakter vokal Dayak berbeda dengan nada falsetto yang biasa digunakan dalam menyanyi. Falsetto adalah salah satu teknik vokal di luar jangkauan nada biasa. Nada falsetto memikiki nada yang sangat tinggi.

Lea lalu mencontohkan beberapa nada yang berbeda jika dinyantikan dengan memasukkan karakter vokal Dayak. Namun, ujarnya, tidak semua lagu yang ia nyanyikan dalam pentas Bawi Lamus memakai karakter vokal Dayak.

"Sebagian ada yang harus dikasih teknik berbeda, tapi yang cocok untuk dikasih aksen Dayak. Yang itu akan keluar juga. Tapi dinyanyikan dengan karakter yang berbeda di beberapa bar," tambah perempuan yang merilis album perdananya berjudul Bangun pada 2004 atau saat berusia 25 tahun.

Dalam pentas tersebut, Lea bakal menyanyikan tiga lagu yang diaransemen Erwin Gutawa. Menurutnya, dua lagu memiliki karakter khas Dayak, sedangkan satu lagu dituntut untuk lebih klasik.

Masyarakat ramah

Bagi Lea, pentas seni tradisional suku Dayak itu bukan hanya meninggalkan kesan pada seni vokalnya. Ia juga terpukau pesona alam dan budaya Kalimantan, ketia beberapa waktu lalu ia mengunjungi pulau yang disebut juga sebagai Borneo itu.

Lea bahkan sempat berinteraksi dengan masyarakat setempat. Keramahan mereka membuatnya makin terkesan. "Mereka sangat ramah yang tidak dibuat-buat. Bahkan setiap pertanyaan yang aia ajukan akan dijawab dengan jelas, lengkap, dan detail. Menurut saya, mereka juga mau membagi ilmu dan tidak pelit," terangnya. (H-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya