Komaruddin Hidayat Sebarkan Virus Toleran pada Guru

Zubaedah Hanum
25/9/2018 07:15
Komaruddin Hidayat Sebarkan Virus Toleran pada Guru
(MI/SUMARYANTO)

SUDAH empat tahun berlalu Komaruddin Hidayat melepas jabatannya sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada 2016. Kini, laki-laki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953 itu tengah aktif menularkan virus toleran kepada para guru agama.

"Program saya Peace Camp untuk guru-guru agama lintas iman cukup berhasil. Itu jadi prototipe kami. Kami akan buat yang kedua nanti," ucap Komaruddin ketika ditemui saat Open House Sekolah Madania di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/9).
Peace Camp yang digagasnya melibatkan sejumlah guru agama di Indonesia. Lokasinya mengambil tempat di Pondok Pesantren modern Pabelan, Magelang, Jawa Tengah.  

"Itu pengalaman Madania, lalu saya lakukan di ponpes saya di Pabelan. Orang Kristen, Katolik, Buddha itu masuk ke pesantren. Jadi mereka senang banget. Orang pesantren juga senang ada yang datang mengunjungi," beber doktor di bidang filsafat barat di Middle East Techical University, Ankara, Turki itu.

Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara itu menyatakan radikalisme dimulai dari mindset atau pola pikir guru. Karena itulah, guru agama memainkan peranan penting dalam membentuk karakter anak didik, termasuk pemikiran radikalisme.
Radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

"Radikalisme itu dimulai dari mindset guru. Jadi guru-guru agama harus dikenalkan dulu. Mereka di-training, saling bersilaturahim antarguru yang berbeda agama," kata lelaki yang selalu memilih laut sebagai destinasi favorit liburan bersama keluarganya itu.
Menurutnya, training kepada guru merupakan hal penting untuk menambah wawasan mereka, terlebih dengan situasi sosial, politik, maupun budaya yang terus berkembang. Misalnya saja saat era revolusi digital sekarang ini.

"Gaya hidup, gaya belajar, kehidupan sosial berubah, semua mengubah tata ulang dunia ini. Makanya dunia pendidikan harus mengikuti. Kalau tidak, akan ada jarak. Jadi yang belajar bukan hanya murid, tapi guru pun perlu belajar. Pengurus sekolah juga belajar," sebut alumnus Ponpes Pabelan, Magelang (1969) dan Ponpes Al-Iman, Muntilan (1971) itu.

Siapkan calon pemimpin
Budaya sikap toleran juga digencarkan anak didik Komaruddin di Sekolah Madania yang dibinanya di bawah pengelolaan Yayasan Pendidikan Madania Indonesia (YPMI). Sekitar 500 anak mulai dari jenjang TK hingga SMU di sekolah nasional berstandar dunia itu dikenalkan dengan budaya semua agama di Indonesia, melalui sejumlah aktivitas di sekolah. Siswa-siswi di sana berasal dari bermacam-macam agama, suku, dan ras.

"Anak-anak dikenalkan dengan budaya agama. Misalnya tradisi seputar perayaan hari besar. Pengenalan itu juga diberikan pada guru-guru. Kita yang berbeda agama cukup mendengarkan," jelasnya.

Sekolah yang didirikan bersama almarhum Nurcholish Madjid dan Achmad Fuadi itu kini sudah berusia 22 tahun. Indonesia yang begitu plural menyebabkan relasi suku dan agama begitu cair. "Karena itu butuh banyak pilihan sebagai alternatif pendidikan. Karena itu, kami berikan alternatif calon-calon pemimpin di masa depan yang mereka siap memasuki dunia plural," tuturnya.

Selain aktif di YPMI dan menjadi Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Sukma Komarudin Hidayat, Komaruddin sedang mempersiapkan pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia di Depok, Cimanggis, Jabar, dan menjadi Ketua Panitia Penegerian Universitas Tidar, Magelang, Jateng. "Pendidikan memang passion saya," pungkasnya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya