Jonatan Christie Kemenangan untuk Saudara Sebangsa di Lombok

Dhika Kusuma Winata
31/8/2018 01:15
Jonatan Christie Kemenangan untuk Saudara Sebangsa di Lombok
( ANTARA FOTO/INASGOC/Hadi Abdullah)

DALAM ajang pesta olahraga negara-negara di Asia atau Asian Games yang tengah berlangsung di Jakarta dan Palembang, muncul bintang baru yang menyedot banyak perhatian, terutama kaum hawa.

Bukan hanya karena prestasinya, melainkan juga wajahnya yang menawan. Ia pebulu tangkis Jonatan Christie, 20. Pemuda yang biasa disapa Jojo itu berhasil menyabet medali emas setelah mengalahkan pebulu tangkis asal Taiwan, Chou Tien Chen, dalam final tunggal putra  di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8) lalu.

Kemenangannya seketika disambut sorak-sorai penonton di tribune dan pemirsa televisi. Sesaat kemudian keriuhan ditingkah histeria para penonton perempuan karena Jojo melakukan selebrasi kemenangannya dengan menanggalkan kaus penuh keringat yang dikenakannya. Aksi yang memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya itulah yang mengundang histeria.

Meski aksi itu bukan yang pertama kali, karena seolah menjadi tradisi dari setiap kemenangannya, tetap saja Jojo menjadi buah bibir, apalagi di medsos.

Pascamomentum itu, Jojo kembali membuat para fannya bertambah kagum. Ia ternyata melelang kaus yang dikenakannya pada partai final Asian Games 2018 tersebut. Baju yang mengantarkannya meraih medali emas di ajang bergengsi se-Asia itu dilelang pada acara konser amal untuk korban gempa Lombok, yang digelar salah satu stasiun televisi swasta.

Bagi Jojo, kemenangannya memang bukan hanya miliknya. Oleh karena itu, ia menunjukkannya dengan pedulian terhadap saudara sebangsa yang tengah terkena musibah bencana.

"Saya memberikan kaus yang kemarin saya pakai itu untuk dilelang dan hasilnya akan diberikan kepada korban (gempa) yang ada di Lombok. Semoga korban yang belum ditemukan bisa cepat ditemukan. Semoga Lombok bisa cepat bangkit kembali," tuturnya.

Dalam lelang, kaus putih dengan punggung bertuliskan 'Christie J Indonesia', dilengkapi dengan tanda tangan dan nama Jojo itu terjual dengan harga fantastis, yakni Rp400 juta. Pembelinya ialah Hartono Sutanto, Direktur Utama PT Surya Citra Media Tbk, perusahaan yang membawahkan stasiun televisi SCTV dan Indosiar.

Seluruh pendapatan dari lelang kausnya tersebut bakal didonasikan untuk korban bencana di Lombok. Bahkan Jojo juga bakal menyisihkan sebagian bonus yang ia peroleh untuk korban gempa Lombok.

Pemuda kelahiran 15 September 1997 tersebut dipastikan bakal menerima bonus sebesar Rp1,5 miliar yang dijanjikan pemerintah.

"Bonusnya nanti ada yang mau ditabung, sebagian lagi dibagi-bagi. Dibagi untuk tim yang dari awal sebelum Asian Games sudah banyak membantu saya. Saya juga ingin menyisihkan untuk keluarga dan orang-orang yang membutuhkan seperti korban gempa di Lombok. Saya mau membagi yang Tuhan berikan kepada saya," ucapnya.

Sosok Jojo tidak dimungkiri kini menjadi idola baru masyarakat Tanah Air. Kemenangannya di bulu tangkis nomor tunggal putra baru-baru ini menciptakan euforia dan mendapat perhatian besar dari publik. Di balik kisah kesuksesan itu, Jojo menyimpan motivasi besar.
Pasalnya nomor tunggal putra Indonesia tidak banyak bersinar sejak era pebulu tangkis pria terdahulu seperti Taufik Hidayat.

"Kadang kami, tunggal putra Indonesia, dipandang sebelah mata. Waktu saya dan Anthony Ginting masuk semifinal, kami mau membuktikan bahwa kami bisa memastikan emas. Tapi namanya pertandingan, Anthony terhenti di semifinal," ucapnya.

Komentar penyemangat
Ia menjadikan komentar dan pandangan negatif tersebut sebagai pelecut semangat. Bahkan, Jojo kerap menyimpan komentar negatif tentang dirinya yang ia temukan di medsos. "Ada folder khusus di ponsel saya. Nama foldernya Penyemangat. Ini enggak meniru siapa-siapa, ide sendiri. Ini buat mengingatkan saya kalau lagi di atas, jangan sampai lupa diri; kalau lagi di bawah dan dikomentari negatif begini, agar bisa termotivasi," ujarnya.

Screenshot tentang komentar negatif itu ia kumpulkan sejak 2015, lengkap beserta tanggalnya. "Suatu hari nanti kalau pensiun, itu akan saya bingkai dan pajang di rumah. Mungkin suatu hari nanti akan saya perlihatkan kepada anak saya, bahwa kata-kata yang menyakitkan bisa membuat kita jadi orang yang lebih kuat daripada sebelumnya." (H-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya