Laga Indonesia Pukau Dunia

ARDI TERISTI HARDI
26/8/2018 01:00
Laga Indonesia Pukau Dunia
(DOK.MILE 22, SONY PICTURES, LIFELIKE PICTURES)

AGUSTUS ini spesial bagi aktor-aktor laga Tanah Air. Pasalnya, ada dua fi lm laga yang diperankan aktor Indonesia yang tayang, yaitu Mile 22 dan Wiro Sableng. Memang keduanya tidak bisa dibandingkan. Mile 22 diproduksi STX Entertainment, yang melibatkan Iko Uwais sebagai salah satu aktor utamanya, sedangkan fi lm Wiro Sableng buatan anak bangsa bekerja sama dengan 20th Century Fox.

Namun, ada satu kesamaan, aktor dan film laga Indonesia dilirik Hollywood. Kebangkitan film laga Indonesia bermula dari fi lm Merantau pada 1999. Disusul The Raid (2011), The Raid 2 (2014), dan Headshot (2016). Sejumlah aktor yang terlibat dalam produksi fi lm luar negeri seperti Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, dan Cecep Arif Rahman. Animo pecinta film dunia akan laga asal Tanah Air berawal dari The Raid.

Menurut manajer Iko Uwais, Ricky Siahaan, keterlibatan Iko di Mile 22 setelah sang sutradara, Peter Berg, melihat aksinya di The Raid. “Iko ditelepon langsung Peter Berg jam 4 pagi setelah ia nonton The Raid dan dia suka fi lm itu. Iko diajak meeting di Los Angeles,” kata Ricky. Film Mile 22, kata Ricky, sebenarnya dimulai pada 2015, tapi tertunda hingga tahun ini karena Mark Wahlberg terikat kontrak film Transformer.

Tidak semata menjadi salah satu tokoh utama , tapi juga koreografer laga. Meski hanya bisa membawa Rama Ramadhan, Iko berhasil merancang koreografi perkelahian yang menunjukkan pencak silat dalam waktu tiga minggu. “Jadi, kita coba kolaborasi ciri khas Indonesia dengan gaya Hollywood,” kata Iko Uwais, seperti yang ditayangkan dari channel STX Entertainment. Kerja Iko pun diapresiasi Berg dan Wahlberg. Iko disebut sebagai generasi penerus Bruce Lee, Jackie Chan, hingga Jet Li.

Mile 22
Film Mile 22 bercerita seorang agen CIA, James Silva (Mark Wahlberg) dibantu unit komando taktis rahasia yang ditugaskan menyeludupkan polisi bernama Li Noor (Iko Uwais) yang menjadi informan penting. Mereka harus menempuh jarak 22 mil dari pusat kota menuju pesawat yang sudah menunggunya di bandara.

Sepanjang perjalanan mereka dihadang polisi korup, gembong penjahat, serta penjahat- penjahat bersenjata lengkap yang siap mencegahnya. Film ini menampilkan adegan perkelahian yang brutal, aksi tembak, dan kebut-kebutan di jalan raya. Dari sisi cerita, alur ceritanya sangat cepat dan penuh ketegangan sepanjang fi lm. Film kategori 17+ ini mengusung nuansa Indonesia, antara lain pencak silat, bahasa, dan meditasi.

Iko yang berperan sebagai Li Noor banyak menggunakan aksi pencak silat. Bukan hanya gerakan seni, tapi juga gerakan mematikan. Bukan hanya aksi bela diri, fi lm ini pun banyak menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya Iko, tapi juga lawan mainnya, Lauren Cohan, beberapa kali memakai bahasa Indonesia dalam beberapa adegan.

Kolaborasi
Bukan hanya aktor, rumah produksi Indonesia pun dilirik Hollywood. Seperti Wiro Sableng yang akan tayang 30 Agustus ini, merupakan kerja sama antara Lifelikes Pictures dan 20th Century Fox. “Penting ketika bekerja sama dengan mereka adalah profesionalisme dan konsep yang jelas tentang yang kita tawarkan ke mereka, termasuk visi dan misi kita,” kata Producer Wiro Sableng, Sheila Timothy.

Dari kerja sama itu perempuan yang akrab disapa Lala itu mengaku mendapatkan tiga hal, yaitu memberi masukan dan analisis terhadap struktur cerita (script doctoring), promosi, dan distribusi. Kerja sama ini membuat jangkauan fi lm Wiro Sableng makin luas. Saat promosi, misalnya, dirinya bisa masuk dalam cuplikan promo Deadpool 2. Selain itu, distribusi fi lm juga tidak hanya di Indonesia, tetapi juga bisa menjangkau negara-negara lain dengan lebih mudah.

“Tidak hanya melulu soal uang, tapi dalam kerja sama ini ada transfer pengetahuan, teknologi, dan keluasan teritorial,” kata Lala. Capaian itu dilihat Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Marcella Zalianty, perfi lman Indonesia mengalami kemajuan yang membanggakan. Ia pun optomistis perfi lman di Indonesia akan semakin baik ke depannya dengan sumber daya manusia yang ada. “Untuk dapat memasuki pasar Hollywood tidaklah mudah, tetapi saya optimistis.

Saya yakin dengan kreativitas dan sumber daya manusia di Indonesia,” kata dia. Yang perlu ditingkatkan dalam perfi lman Indonesia, antara lain alih teknologi, pendidikan di sekolah akting dan fi lm, dan kehadiran negara dalam industri fi lm Tanah Air. (M-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya