Kikan Pilih Pemimpin yang Meneduhkan

Dhika Kusuma Winata
14/8/2018 04:00
Kikan Pilih Pemimpin yang Meneduhkan
(C & R)

PENYANYI Namara Surtikanti atau lebih akrab dipanggil dengan nama Kikan, 41, angkat bicara mengenai ramainya proses pemilihan presiden dan wakil presiden yang sudah dimulai.

Menurut mantan vokalis grup musik Cokelat itu, pemimpin Indonesia yang kelak terpilih nanti harus mampu menjadi pemimpin yang meneduhkan. Bukan yang menimbulkan kegaduhan apalagi memecah belah masyarakat.

"Siapa pun yang terpilih tentu harus meneduhkan. Apa yang terjadi saat ini banyak orang saling menghujat. Masak iya kita harus ribut begini terus? Ribut kiri-kanan," ujarnya ditemui di Jakarta, Kamis (9/8) pekan lalu.

Menurut dia, masyarakat saat ini rentan terprovokasi satu sama lain akibat penyebaran hoaks dan fitnah yang seliweran di media sosial. Perilaku berbagi informasi di media sosial, tuturnya, lebih didominasi penyebarluasan informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Banyak yang suka sebar hoaks. Masyarakat kita semakin suka kalau informasi itu kontroversial. Masyarakat lebih suka bentuk propaganda dan memviralkannya," ungkap Kikan.

Akibatnya, menurut perempuan kelahiran Jakarta itu, kerap terjadi saling menghujat antara satu pendukung politik dan pendukung lainnya.

Karena itu, dia berharap pemimpin yang terpilih nanti bisa menjadi bagian pemecahan masalah.

"Siapa pun yang terpilih, yang menang atau yang kalah harus jadi solusi. Yang menang jangan keras kepala dan yang kalah jangan susah move on. Dua-duanya harusnya meneduhkan," ucapnya.

Dia juga berharap agar masyarakat bisa kian dewasa menyikapi perbedaan pilihan politik. Berbeda pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah sesama anak bangsa.

"Selama yang di bawah ini memilih jalannya sendiri dan senang berkonflik, pasti susah berdamai. Padahal, enggak ada pemimpin yang ingin melihat rakyatnya gontok-gontokan terus," tegasnya.

 

Lebih cerdas

Kikan berpendapat tingginya tensi politik jelang pemilihan presiden ini dapat disikapi lebih cerdas oleh masyarakat.

Terlebih dengan semakin derasnya arus informasi yang seharusnya diikuti kecerdasan bermedia sosial. Minimal dengan tidak menyebarkan hoaks.

"Harusnya kemajuan teknologi dan arus informasi paralel diikuti dengan kecerdasan bermedia sosial. Yang sekarang terjadi ponselnya semakin pintar, tapi yang menggunakannya enggak pinter."

Dia menambahkan, "Bahkan di antara keluarga dan saudara sampai berantem karena beda pilihan politik," tuturnya.

Padahal, kata Kikan, perbedaan politik sepatutnya diterima sebagai hal yang wajar di alam demokrasi ini. Bukan diterima sebagai alasan untuk saling bertikai satu sama lain.

"Saya berharap ayo, deh, orang Indonesia bahwa berbeda itu biasa. Kita harus bangun dialog. Perbedaan memang hal yang mendasar," terangnya.  (H-5)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya